Abstract :
Penelitian berjudul ?Kebertahanan Gending-gending Baku dalam
Upacara Ritual Bersih Desa di Dukuh Dalungan, Desa Macanan,
Kecamatan Kebakkramat?, bertujuan untuk menggali faktor-faktor yang
menyebabkan gending-gending baku masih bertahan di kehidupan
masyarakat dukuh Dalungan. Kebertahanan gending-gending baku tidak
lepas dari pendukung seperti: sistem kepercayaan kejawén, cerita rakyat,
dan nilai-nilai budaya yang diwariskan dari leluhur. Kebertahanan
gending-gending baku didukung sesepuh juru kunci pundhén, serta ketua
RW sebagai pemimpin dukuh Dalungan.
Inti permasalahan yang diungkapkan dalam penelitian ini adalah
(1) Bagaimana prosesi upacara ritual bersih desa yang dilakukan
masyarakat dukuh Dalungan, dan (2) Mengapa masyarakat masih
menggunakan gending-gending baku sebagai sarana upacara ritual bersih
desa di dukuh Dalungan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif,
metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, meliputi
pengumpulan data, analisis data, penyajian data, dan kesimpulan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan antropologi, sosiologi, dan
teori tafsir. Pendekatan antropologi merujuk pada pendapat
Koentjaraningrat, guna menggali kebudayaan, sistem kepercayaan, dan
tradisi yang melekat pada masyarakat dukuh Dalungan. Pendekatan
sosiologi merujuk pendapat Durkheim, guna menggali kehidupan
masyarakat dukuh Dalungan yang mempelajari aturan-aturan sosial,
menumbuhkan makna gending-gending baku. Penggunaan teori tafsir
Turner, untuk melakukan penafsiran terhadap informan tentang makna
gending-gending baku.
Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa gending-gending baku
dapat memberikan dampak positif dalam kehidupan masyarakat dukuh
Dalungan. Kedudukan sesepuh juru kunci sangat penting sebagai
pamangku, pewaris budaya leluhur di masa lampau. Budaya leluhur
gending-gending baku sebagai pedoman hidup, dan keyakinan
mengandung nilai-nilai positif, sehingga gending-gending baku dapat
bertahan sampai saat ini dimasyarakat dukuh Dalungan.