Abstract :
Di masa penjajahan, perempuan biasanya tidak memiliki banyak andil
dalam menyelesaikan suatu masalah. Jangankan menyelesaikan masalah,
ikut serta berbicara dan mengeluarkan pendapat dalam suatu forum merupakan suatu hal yang tabu bagi kaum perempuan. Banyak hal yang
harus sebatas ?mimpi? bagi kaum perempuan dimasa penjajahan. Tugas
perempuan pada masa itu hanyalah memasak dan menjadi perempuan baik
yang patuh terhadap orang tua. Namun dengan dicetuskannya emansipasi
wanita oleh R.A. Kartini dan seiring berkembangnya zaman, kedudukan
perempuan kini sejajar dengan laki-laki. Hal ini dibuktikan dengan adanya
beberapa profesi pekerjaan yang biasanya digeluti oleh kaum lelaki, namun
dewasa ini profesi tersebut dapat dipegang oleh kaum perempuan, bahkan
tidak sedikit perempuan yang menjadi sukses di dalam profesinya.
Hidup bagai dikebiri membuat perempuan terkadang ingin segera
keluar dari rantai-rantai yang membelenggu. Ketika mereka terlepas, banyak
sekali hal- hal yang dapat mereka lakukan diluar pemikiran para lelaki.
Dalam kehidupan bermasyarakatpun, kehadiran perempuan sangat penting
bagi keseimbangan hidup. Perempuan memiliki dua sisi yang berdampingan,
terkadang mereka bisa menjadi pribadi yang lembut, pengertian, dan
meneduhkan, namun terkadang mereka juga merupakan pribadi yang teliti
dan tegas dalam mengambil sikap.
Gagasan pokok diatas mendasari penulis dalam mengangkat Retno
Dumilah. Perjalanan Retno Dumilah yang terlahir dengan jiwa senapati yang
membara membuatnya tidak dapat berdiam diri ketika terjadi masalah yang bergejolak, terlebih ancaman tersebut timbul oleh musuh yang
mengancam.Ia memiliki keteguhan dan keyakinan dalam setiap kata yang di
katakan.
Adapun lakon atau judul yang penyaji pilih sebagai bentuk
reinterprestasi cerita ini adalah ?Wanodya Wirotama?. Alasan dipilihnya judul
tersebut adalah agar penonton yang menikmati sajian lakon ini lebih fokus
terhadap nilai-nilai perjuangan yang ditampilkan dari tokoh Retno Dumilah,
dan dari kisah Retno Dumilah tersebut kita bisa mengambil sebuah nilai
mengenai kekuatan seorang wanita yang tetap berpegang teguh pada apa
yang diucapkanya dan berani mengambil resiko yang sangat besar untuk
kehidupan sesama.
Lakon Retno Dumilah disajikan dalam bentuk pakeliran padat.
Pakeliran padat adalah pakeliran yang mengindonesia. Artinya, yang
diungkapkan melalui pakeliran itu bukan nilai-nilai budaya Jawa khususnya,
melainkan nilai-nilai manusia Indonesia yang relevan pada masa sekarang
(Sudarko, 2003: 3). Istilah padat sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,
berarti (1) sangat penuh hingga tak berongga, padu, mempal dan pejal (2)
penuh sesak, penuh tempat (3) rapat sekali (4) tetap bentuknya.