Abstract :
Berawal dari konflik batin yang dialami oleh Trigangga yang
merasakan diantara sepinya relung hati, meskipun di tempat dan waktu yang sama dikelilingi orang terkasih, yaitu Partalawati dan Mantalamariyam. Trigangga dengan sejuta rasa ingin tahunya, bertanyatanya pada Partalawati tentang siapa sebenarnya dirinya itu dan siapa sebenarnya ayah yang selama ini mengukir jiwa raganya tersebut. Partalawati terbungkam seribu bahasa atas pertanyaan Trigangga, bibirnya kaku untuk mengatakan yang sebenarnya, sampai-sampai harus menyembunyikan jati diri sesungguhnya seorang Trigangga.
Mantalamaryam yang merasa geram dengan sikap Trigangga yang terlalu banyak tanya, menyela pembicaraan antara Partalawati dan Trigangga.
Mantalamaryam mengatakan jika sejatinya Trigangga adalah anak dari
ibu Partalawati dan ayah Dasamuka. Seketika berangkatlah
Mantalamaryam dan Trigangga menemui Dasamuka di negara Alengka.Kesedihan Partalawati bertambah deru karena merasa bersalah
sudah membohongi anaknya tentang siapa dirinya dan siapa ayahnya.
Isak tangis Partalawati pun mengiringi kepergian keduan putranya
mencari kejelasan tentang ayahnya di negara Alengka.
Di Negara Alengka, duduklah Dasamuka di singgasananya
dengan segala kenikmatan yang menyelimutinya merasa kurang puas
dengan keadaanya, bahkan Indrajit selaku anak harus mengalah hanya
demi kepentingan ayahnya. Saat pasewakan agung berlangsung datanglah
Mantalamaryam menghadap Dasamuka, menghaturkan jika ia adalah
anak dari Partalawati dan ber-ayahkan Dasamuka. Dasamuka merasa
bahagia memiliki anak yang wajah dan rupanya sama persis dengannya.
Setelah memperkenalkan diri Mantalamaryam mundur dan mengajak
Trigangga kehadapan Dasamuka, sontak kagetlah Dasamuka mendapati
ada kera seperti Anoman memasuki pasewakan agung negara Alengka.
Trigangga menyembah Dasamuka dan berdakwa jika dirinya adalah anak
dari Dasamuka, dan merupakan adik dari Mantalamaryam. Dasamuka
berunding sejenak dengan Indrajit, lalu memutuskan untuk
mempropaganda keadaan tersebut, Ia mau mengakui Trigangga sebagai
putra asalakan pandai berperang dan sakti hingga mampu membunuh
pasukan Rama dan Lesmana. Trigangga dengan kepolosannya, mau tidak
mau harus patuh atas perintah ayahnya tersebut, dengan tipu daya Dasamuka, bersedialah Trigangga untuk diperbudak menjadi utusan dari
Alengka untuk menangkap Rama dan Lesmana dan membunuh Anoman.
Pencarian jati diri seorang Trigangga tidak berhenti di sini, masih
berlanjut dengan kondisi negara Pancawati, Ramawijaya dan Lesmana
dihadap Anoman, Sugriwa, dan Anggada, sedang membicarakan taktik
untuk merebut kembali Dewi Sinta dari tangan Dasamuka. Di tengah
perbincangan, Gunawan Wibisana memberikan kabar jika saat ini para
prajurit Alengka sedang menyerang Pancawati. Mendengar kabar
tersebut, Ramawijaya dan Lesmana meminta bantuan pada Anoman
untuk menyembunyikaan dirinya dan adiknya, tanggaplah Anoman.
Setibanya Trigangga dan Mantalamaryam di Pancawati, mereka berdua
bersekongkol untuk tidak membuat gaduh keadaan Pancawati, akhirnya
Trigangga matek aji sirep wewe putih yang daya kekuatanya mampu
membuat semua orang tertidur tanpa sadar. Benar adanya hal tersebut,
semua wadya Pancawati tertidur termasuk Anoman, Trigangga yang juga
kaget mengetahui perwujudan Anoman tertidur dengan wajah seperti
dirinya, merasa khawatir akan keadaan tersebut. ketika mengeluarkan
pengabaran Anoman lalu kagetlah Trigangga, peperangan terjadi antara
keduanya. Pukul-memukul, banting-membanting pun dilakukan
keduanya, karena memang belum mengetahui siapa sebenarnya mereka. Trigangga yang sebelumnya sudah berlari jauh, berbalik arah menuju Anoman dan kembalilah pertarungan terjadi sengit diantara keduanya. Pada klimaksnya, Gunawan Wibisana datang melerai antara Trigangga dan Anoman, serta menjelaskan jika Anoman adalah ayah Trigangga dan Trigangga itu merupakan anak dari Anoman pada saat berada di Goa Windu bersama Trijatha. Mendengar kisahnya tersebut, menangislah Trigangga di pelukan ayahnya dan Anoman memeluk penuh kasih pada anaknya, Trigangga.