Abstract :
Penelitian ini berawal dari ketertarikan terhadap film YOWIS BEN yang menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa bicara untuk keseluruhan film. Film YOWIS BEN menceritakan mengenai pertemanan diantara empat orang lelaki yang ingin mendapatkan pengakuan dari orang di sekitarnya. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana penerimaan mahasiswa ISI Surakarta terhadap penggunaan dialog bahasa bahasa Malangan dalam film YOWIS BEN. Skripsi ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan teori analisis penerimaan yang merupakan teori berbasis khalayak yang berfokus pada bagaimana beragam jenis anggota khalayak memaknai konten tertentu. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Focused Group Discussion (FGD). Dalam pelaksanaan diskusi pembahasan difokuskan pada penggunaan dialog yang mencangkup bahasa bicara dan aksen. Dialog dalam film YOWIS BEN dianalisis terlebih dahulu untuk menentukan bahasa bicara dan aksen yang menjadi pembahasan dalam proses diskusi. Hasil dari FGD diolah dengan menggunakan teori encoding/decoding yang nantinya pendapat dari mahasiswa dipilah-pilah dalam tiga kategori. Pendapat mahasiswa dipilah-pilah sesuai dengan kategori Hall yaitu, dominant hagemonic-position, negotiated code atau oppositional code. Penelitian yang membahas mengenai penerimaan mahasiswa terhadap bahasa bicara dan aksen menunjukkan hasil penelitian bahwa mahasiswa mampu untuk memahami dan menerima penggunaan dialog bahasa Malangan yang terdapat dalam film YOWIS BEN.
Kata kunci :YOWIS BEN, Dialog, Bahasa Malangan, FGD, Analisis Penerimaan