Abstract :
Rajamala, nama sebuah Canthik (cucuk) ujung halauan perahu, terbuat
dari kayu, berbentuk kepala raksasa berambut. Dibuat pada masa pemerintahan
Paku Buwana IV yang bertahta pada tahun 1788 sampai dengan 1820. Paku
Buwana IV mempunyai permaisuri dari Madura, Puteri Adipati Pamekasan
Madura. Canthik Rajamala tersebut dikalangan Keraton Surakarta termasuk benda
pusaka, oleh karenanya diberi sebutan Kyai dan disimpan di Museum Radya
Pustaka Kebon Raja, Surakarta.
Canthik perahu Kyai Rajamala dipilih sebagai sumber inspirasi karya
tugas akhir, yang divisualkan menjadi karya dhapur tombak. Diharapkan dapat
memberi nilai keindahan pada bentuk visual bilahnya. Karya berupa tombak
dimaknai sebagai simbol kehidupan manusia.
Tiga komponen sebagai landasan dalam menciptakan karya seni, menurut
Haryono Haryoguritno yaitu Greget, Guwaya dan Wangun. Greget adalah kesan
yang dapat membangkitkan emosi dari orang yang mengamati karya. Guwaya
adalah kesan yang menyiratkan vitalitas dan semangat. Wangun disini berarti
?keserasian anatomis?.
Penciptaan tugas akhir dibuat tiga bilah dhapur tombak, yaitu: ?Dhapur
tombak Rajamala Baita Alit luk-7 dengan pamor woshing wutah. ?Dhapur
Tombak Rajamala Baita Ageng dengan pamor teknik rekaan?. ?Dhapur Tombak
Rajamala kembar dengan bilah wulung/pengawak wojo?.
Kata kunci: canthik perahu Kyai Rajamala, dhapur tombak.