Institusion
Institut Seni Indonesia Surakarta
Author
Wahyudiyanto, Wahyudiyanto
Subject
Penciptaan dan Pengkajian Seni
Datestamp
2019-11-19 04:01:12
Abstract :
INTISARI
Tari Ngrema Surabayan, salah satu bagian dari keragaman tari Ngrema,
menggambarkan sosok pejuang. Perwujudan sosok pejuang yang dicirikan
dengan karakter kepahlawanan menunjukkan keterkaitan tari Ngrema Surabayan
dengan peristiwa perjuangan arek-arek Surabaya menuntut kemerdekaan.
Karakter kepahlawanan terangkat dari pesona tari Ngrema Surabayan yang
penyajiannya dapat dirasakan urip, yaitu seakan hadir sosok Cakraningrat tokoh
karismatik pahlawan Surabaya masa lampau. Penyajian tari Ngrema Surabayan
yang urip dicapai melalui kualitas teknik, kinestetik dan bentuk keindahan yang
merupakan respon estetik pengreman dari peristiwa perjuangan. Keterkaitan tari
Ngrema Surabayan dengan peristiwa perjuangan dan alam lingkungannya
berimplikasi pada persandingan karakter kepahlawanan dengan slogan
Surabaya sebagai Kota Pahlawan.
Atas dasar fenomena urip pada tari Ngrema Surabayan, kajian ini
difokuskan mempelajari secara mendalam teknik, kinestetik, bentuk estetik dan
unsur persyaratan lain dalam kepenarian yang dapat membangun urip. Kajian
dibatasi pada permasalahan: 1) Bagaimana konstruk teknik dan nilai estetik tari
Ngrema Surabayan. 2) Mengapa kinestetik mempunyai peran dalam kualitas
kepenarian tari Ngrema Surabayan, dan 3) Bagaimana implementasi konsep urip
dalam kepenarian tari Ngrema Surabayan.
Menjawab permasalahaan penelitian digunakan pendekatan etnokoreologi
dengan memanfaatkan teori Kausalitas Multikausal, konsep hibriditas, konsep
teknik, konsep kinestetik, dan konsep estetik. Adapun penulisannya
menggunakan metode etnografi tari, yakni konstruksi pengetahuan tari yang
didasarkan atas 1) dari hal yang dikatakan orang, 2) dari cara orang bertindak
(menari), dan 3) dari berbagai artefak yang digunakan orang. Penelitian
menghasilkan: 1) Konsep urip sebagai entitas tari Ngrema Surabayan, yaitu urip
terjadi karena kemampuan kepenarian didasarkan kepatuhan atau kemampuan
penyesuaian tubuh penari atas kaidah dasar teknik garap medium, daya spiritual
dalam penjiwaan, interpretasi, dan ekspresi yang karismatik hingga seakan hadir
figur Cakraningrat dalam penyajian tari Ngrema Surabayan. 2) Konsep urip sebagai
identitas tari Ngrema Surabayan, yakni penyajian tari Ngrema Surabayan yang urip
menghadirkan citra berupa sosok pahlawan karismatik Surabaya masa lampau
memberikan efek simbol bagi kebudayaan masyarakat Surabaya yang lekat
dengan nilai kepahlawanan. 3) Urip sebagai dasar keindahan dan penilaian tari
Ngrema Surabayan, yaitu urip merupakan dasar keindahan (estetis) ideal tari
Ngrema Surabayan, menjadi landasan pengreman untuk mempertunjukkan tari
Ngrema Surabayan yang ideal, sebagai acuan penonton untuk menghayati citra,
dan pedoman dalam memberikan penilaian penyajian tari Ngrema Surabayan
secara objektif dan proporsional. 4) Tari Ngrema Surabayan memiliki nilai histori
yakni gongseng di pergelangan kaki kanan penari Ngrema, kaki kanan penari
topeng di Malang pada masa kemerdekaan, pada masa penjajahaan yang
diprediksi merupakan kelanjutan jauh di masa kejayaan Majapahit dengan
adanya fakta bahwa Raja Hayam Wuruk menari topeng pada pertunjukan raket.
Kata Kunci; Tari Ngrema Surabayan, Urip, Etnokoreologi.