Abstract :
Musik Kongkil diciptakan pada tahun 1933 oleh Eyang Toinangun
sebagai sarana berkumpul masyarakat Desa Bungkal dalam upaya
perlawanan terhadap penjajah Belanda. Musik Kongkil adalah sebuah
ensambel yang terdiri atas instrumen kongkil, kedhang, saron, kethuk,
kenong, kempul dan gong. Pada awalnya musik Kongkil membawakan
lagu-lagu yang diciptakan oleh personil-personilnya bertema pengobar
semangat, karena tidak adanya warisan repertoar lama dari para
pendahulu maka terjadi inovasi berupa pergantian repertoar sejak tahun
1975 yaitu membawakan gendhing-gendhing dolanan. Sekitar tahun 2000
musik Kongkil mengalami kevakuman, kemudian dihidupkan lagi pada
tahun 2012 dengan repertoar baru yang menyajikan gendhing-gendhing
lancaran dan langgam.
Penelitian berjudul ?Bentuk dan Perubahan Fungsi Musik Kongkil di
Desa Bungkal Kabupaten Ponorogo? ini menggunakan konsep pemikiran
Edy Sedyawati bahwa perubahan struktur sosial dan tata nilai akan
menyebabkan perubahan fisik dan peranan kesenian itu sendiri dalam
masyarakat dan akan menyebabkan terjadinya perubahan dalam struktur
bentuk. Perubahan-perubahan itu tidak dapat dihindari apabila kesenian
tersebut mau hidup di dalam masyarakat. Penelitian ini menggunakan
metode kualitatif analisis deksriptif.
Dalam penelitian ini ditemukan beberapa hal terkait dengan
kelompok musik Kongkil Martapura, antara lain: (1) Sejarah dan
regenerasi kelompok musik Kongkil Martapura, (2) bentuk pertunjukan,
instrumen dan repertoar yang disajikan, (3) faktor pendorong perubahan
fungsi dan dampaknya terhadap tektual dan kontekstual.
Kata kunci: Musik Kongkil, Kelompok Martapura, Perubahan Fungsi.