Institusion
Institut Seni Indonesia Surakarta
Author
Prabhawita, Gede Basuyoga
Subject
Penciptaan dan Pengkajian Seni
Datestamp
2016-10-20 04:31:14
Abstract :
Sinopsis
Desak (32) nama seorang perempuan Bali yang terlahir di keluarga dengan status sosial tinggi.
Beberapa tahun yang lalu dia memutuskan untuk mengikuti seorang laki-laki yang begitu dicintainya.
Dia lari, menikah tanpa sepengetahuan dan persetujuan kedua orang tuanya yang menentang hubungan
tersebut karena permasalahan status sosial. Orang tua Desak marah, memutuskan status dan menganggap
Desak telah mati karena berani menentang keputusan mereka. Kini Desak hidup sebagai buruh tani
cabai di Desa tempat Putu (37), suaminya berasal. Dia memiliki seorang anak laki-laki berumur 3
tahun yang bernama Gede. Kebahagiaan Desak terenggut setelah suaminya memiliki wanita idaman lain.
Tanpa sepengetahuan Desak, Putu yang bekerja di Lembaga Perkreditan Desa jatuh cinta kepada salah
satu nasabahnya.
Kehidupan Desak mulai berubah. Laki-laki yang diperjuangkannya dahulu, kini berbalik menyakitinya.
Tidak jarang Desak mendapat perlakuan kasar baik secara verbal maupun non-
verbal. Desak berusaha bertahan menghadapi Putu demi sang anak. Hingga suatu malam, Putu kembali pulang dalam keadaaan mabuk. Dia berteriak,
memanggil-manggil nama Desak sambil mengamuk. Desak yang ketakutan hanya bisa menangis sambil
memeluk anaknya. Dia pasrah menanti hal buruk yang akan terjadi kepadanya.
Teman-teman sesama buruh cabai mencoba memberikan pandangannya tentang masalah yang dialami Desak.
Seorang buruh meminta Desak untuk pulang kerumah orang tua dan menceraikan suaminya. Namun salah
seorang buruh meminta Desak untuk tetap bersabar demi anak dan bertanggung jawab atas apa yang
sudah menjadi pilihannya dahulu. Permasalahan hidup Desak bertambah ketika hasil rapat keluarga
memutuskan setiap kepala keluarga wajib menyumbang uang perbaikan pura keluarga sebesar 4 juta
rupiah. Desak yang tengah dilanda kebimbangan tanpa sengaja bertemu dengan ayahnya. Rasa rindu
membuat Desak berani memanggil ayahnya. Namun ayah Desak bergeming, dia hanya menoleh dan tidak
menjawab sepatah katapun. Desak memutuskan untuk pergi meninggalkan ayahnya. Hatinya hancur, Desak
sudah tidak memiliki harapan karena tidak ada lagi tempatnya untuk pulang.
Desak yang tengah merasakan tekanan kewajiban dan kenyataan bahwa dia telah benar-benar dibuang,
kembali mengalami kekerasan dari suaminya. Desak yang semakin terdesak oleh keadaan, memutuskan
untuk melawan. Dia melupakan semua yang telah diperjuangkan. Putu mengusirnya dari rumah dan Desak
dengan emosi menerima hal tersebut. Dia masuk kedalam kamarnya, mengambil beberapa baju dari dalam
lemari kemudian memasukkannya ke dalam tas. Desak berhenti sejenak, menatap anak semata wayangnya
yang sedang tidur pulas. Dia menangis meratapi nasib dan harus rela berpisah dengan anaknya. Desak
bangkit mengusap air matanya dan bergegas keluar. Putu kembali mencacinya namun Desak sudah tidak
peduli, hingga sebuah kalimat tanya menghentikan langkahnya. Desak tidak sanggup berpisah dengan
anaknya dan memutuskan untuk bertahan
menerima semua keadaan.