Abstract :
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konsep dan bentuk
pengajian Mafia Shawalat yang dikemas dalam pertunjukan. Termasuk di
dalamnya juga mengkaji tentang resepsi para jamaah dan penonton
terhadap kemasan pertunjukan tersebut. Persoalan yang ingin dijelaskan
dalam tulisan ini adalah, (1) Apa yang membuat Mafia Sholawat
menerapkan bentuk pengajian semacam ini, (2) Bagaimana aktualisasi
kaidah di dalam pertunjukan Mafia Sholawat, dan (3) Bagaimana
penonton meresepsikan konsep dan wujud yang dibawakan Mafia
Sholawat.
Untuk menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini
menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan yang bersumber dari
pemikiran Pierre Bourdieu tentang (1) Modal, (2) Practice dan (3) Arena,
dimana ketiga konsep tersebut akan digunakan untuk menjawab
persoalan satu dan dua. Untuk menjawab persoalan ketiga hasil dari
pemikiran Bourdieu ini kemudian digabungkan dengan pemikiran Real,
dimana dalam resepsi terdapat tiga aktivitas dalam diri pemirsa yang
berlangsung secara simultan (terjadi dalam waktu yang sama) yakni (1)
membaca, (2) memahami dan (3) menafsirkan.
Hasil dari analisis yang didapatkan adalah, Gus Ali menerapkan
bentuk pengajian semacam ini karena diambil pengalaman hidupnya dan
target yang dituju adalah orang-orang yang mempunyai masa lalu yang
negatif. Dari pengalamannya tersebut, kemudian diterapkan pada Salam
Tiga Jari, yang kemudian dijadikan sebuah acara atau isi konten, dimana
mencampurkan bentuk pertunjukan seperti konser dengan diakhiri dengan
Sholawat. Konten ini menjadi upaya agar pengajian ini dapat diterima
dan akhirnya dapat menyadarkan anak-anak muda untuk kembali ke
jalan yang benar melalui sholawat.