Abstract :
INTISARI
?Kidung Hredaya Saking Swara Ngarcana Ishwara Mengembara
Dalam Diri? berarti kidung merupakan ungkapan ekspresi dari hati
nurani yang paling dalam. Kidung dilantunkan dengan suara yang indah
dipersembahkan sebagai bakti kepada Hyang Widhi. Beliau yang disebut
Ishwara dipuja dan disthanakan dalam keindahan suara. Dari suara hati
mewujud menjadi kidung sebagai yantra untuk menuju Ishwara (Swara-
Aksara-Ishwara).
Karya Kidung Hredaya ini merupakan mandala, swara yantra bagi
pengkarya dalam melakukan dhyana (meditasi). Suara prenawa Om dan
bijaksara Sapta Ongkara digetarkan dan dilantunkan dalam melodi
kidung sehingga selaras dan menyatu dengan getaran sabda semesta,
suara asal, Nada Brahman.
Swara-Aksara-Ishwara yang menjadi dasar dalam penciptaan kidung
ini diterjemahkan dalam konsep berkarya menjadi bukti (karya kidung
yang digarap dengan nilai estetika), mukti (karya kidung yang
memberikan pencerahan dan kesadaran jiwa), ngarcana lango (mengalami
ekstase keindahan, kesadaran spiritual), jiwan mukti (kebebasan,
manunggal).
Karya Kidung Hredaya ini dipersembahkan dalam bentuk Sangita
di mana kidung (gita) menjadi elemen pokok disertai dengan musik
(wadyan) dan tari (nretya). Dalam penyajiannya karya ini dibagi menjadi
tiga bagian yaitu ; 1). Kidung Shiwa-Budha, 2). Kidung Nretya Puja, 3).
Kidung Swara Yantra.
Dalam konteks upacara ritual Kidung Hredaya dipersembahkan
menjadi bagian dari Panca Gita (lima suara). Dalam konteks sadhana
(disiplin) yoga, Kidung Hredaya adalah nada yoga.
Kata kunci: kidung, swara, yantra, ishwara, mengembara.