Abstract :
Karya seni tari ?Fatwa (Kisah)? yang disusun dan disajikan oleh
Faruq Ghalib Naufal ini merupakan Tugas Akhir dari Jurusan Tari,
Program Studi S-1 Seni tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni
Indonesia Surakarta. Karya ini merupakan hasil dari kisah cerita suku
Melayu yang dikenal dengan sebutan Gara-Gara Seulas Nangka, Megat Sri
Rama Menuntut Balas, serta Sultan Mahmud Mangkat Dijulang yang
divisualisasikan dalam bentuk karya seni tari dengan vokabuler gerak,
nuansa dan suasana yang mengarah kepada suku Melayu tepatnya yang
berada di wilayah Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia.
Berkisahkan tentang tiga tokoh utama yaitu Sultan Mahmud Syah II
dengan panglima perang kepercayaannya yaitu Megat Sri Rama serta Wan
Anom istri dari panglima. Megat Sri Rama yang diperintahkan oleh Sultan
Mahmud Syah II untuk pergi berperang melawan para penjajah negri harus
meninggalkan istrinya seorang diri dalam keadaan sedang mengandung.
Demi kesetiaannya kepada Sultan, Megat Sri Rama tetap menjalankan
tugasnya namun tidak disangka Sultan Mahmud Syah II justru membunuh
Wan Anom hanya gara-gara seulas nangka yang dimakan oleh Wan Anom
yang mana buah itu harusnya diperuntukan kepada Sultan Mahmud Syah
II.
Dilihat dari konsep garap, dapat diketahui bahwa pekarya
menciptakan karya seni tari ini dengan berdasarkan garap koreografi
kelompok. Pekarya menggunakan kerangka konseptual oleh Y. Sumandiyo
Hadi dimana dalam koreografi kelompokpara penari harus kerjasama saling bketergantungan atau terkait satu sama lain dan masing-masing
penari mempunyai pendelegasian tugas satu fungsi. Sesuai yang dikatakan
Y. Sumandiyo Hadi bahwa koreografi kelompok para pendukung karya
harus bekerjasama yang dikarenakan penari satu dan penari lainnya selalu
terkait dan memiliki ketergantungan, sehingga menambahkan tingkat
kesulitan dalam bentuk koreografi kelompok.
Konsep yang digunakan pekarya dalam menciptakan karya seni
gtari Fatwa ini adalah dalam bentuk konsep tari kelompok. Pekarya
menentukan untuk menyusunnya dalam bentuk tari kelompok karena
pekarya menyadari bahwa cerita yang diangkat untuk dijadikan dasar dari
karya ini tergolong sulit apabila harus dilakukan dengan konsep tari
tunggal. Bila tari tunggal maka satu penari harus dapat menguasai setiap
elemen yang diperlukan seperti ekspresi dan karakteristik dari ketiga tokoh
utama serta suasana-suasana yang harus dimunculkan pada tiap
adegannya. Maka dari itu pekarya menentukan karya ini dibentuk dengan
karya tari kelompok agar dapat elem-elem ytersebut dapat dibagikan
kepada para pendukung karya dan tidak menitikberatkan pada satu penari
saja.