Abstract :
ABSTRAK
Aktivitas bunyi-bunyian tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan
manusia. Secara kontekstual, hal tersebut dapat diamati di sekitar wilayah
mangrove Kedonganan Bali. Bunyi-bunyian menjadi sebuah representasi
dunia kecil yang di dalamnya terdapat berbagai makluk hidup dengan
segala aktivitasnya. Hutan Mangrove dengan ke-khas-an ekosistem serta
karakteristik bunyi yang ada di dalamnya merupakan bagian dari
struktur kebudayaan masyarakat Kedonganan yang telah berakar lama
dan berkembang secara dinamis. Bunyi ?plak? dari capit kepiting yang
memakan akar bakau, bunyi burung yang hinggap di pohon mangrove,
bunyi ikan bluncat yang melompat-lompat di air, bunyi gesekan pohon
mangrove, bunyi kaki nelayan ketika menginjak lumpur serta air,
maupun bunyi-bunyi lain diluar konteks ruang mangrove menjadi sangat
populer di telinga masyarakat yang berdekatan langsung dengan
kawasan tersebut.
Mangrove menjadi ruang inspirasi bagi pengkarya sekaligus
berkaitan langsung dengan merespon gejala bunyi. Bagi pengkarya,
mangrove menjadi ruang tersendiri untuk memunculkan sebuah
kreativitas serta menggali nilai-nilai apa saja yang terkandung di
dalamnya. Capaian yang ingin ditularkan untuk masyarakat ialah
kesadaran tentang bunyi-bunyian karena setiap bunyi memiliki tataran
makna serta filosofis yang berkaitan langsung dengan budaya masyarakat
Kedonganan. Pengkarya ingin mengajak para apresiator untuk
membangun kepekaan secara auditif mengenai pemahaman sebuah
atmosfir bunyi di dalam menerjemahkan apa saja yang terdapat di dalam
sebuah ruang mangrove. Kesadaran tentang bunyi-bunyian yang terdapat
di hutan mangrove Kedonganan menjadi sangat penting karena audiens
harus mampu menebak pesan dari karya tersebut lewat kepekaan panca
indera terkait dengan kesunyian diantara kompleksitas bunyi-bunyian
yang membungkusnya.
Ilustrasi diatas menjadi awalan untuk berpikir tentang bagaimana
kepekaan auditif kita untuk mengamati ruang yang terdapat di beberapa
dimensi lainnya. Kompleksitas bunyi yang hadir di dalam ruang bunyi
membawa aksi dan reaksi antara alam dengan manusia. Lebih dari itu,
karya yang berjudul ?Harkat Bunyi Alam Mangrove? menjadi prasyarat
bagi sebuah perayaan tentang pemaknaan bunyi. Pemaknaan sebagai
prasyarat ini menempatkan cara pandang bunyi-bunyian yang terdapat di
sekitar mangrove sebagai sebuah fokus utama dan diasumsikan
mencitrakan dimensi lain.
Kata Kunci: Mangrove, bunyi, auditif.