Abstract :
Penelitian ini bersifat diskriptif analisis; bertujuan untuk mengungkap asal mula, bentuk dan fungsi Madya Pitutur yang masih melekat dalam masyarakat Sudimara. Hasil penelitian menunjukan bahwa kesenian Madya Pitutur berfungsi sebagai sarana upacara bersih desa, upacara nadar, upacara minta hujan, penyambutan tamu, pertemuan jodoh dan memperingati hari-hari besar. Pementasan Madya Pitutur terdiri dari tiga bagian syair lagu yang digunakan untuk pementasan yaitu lagu pembukaan, lagu inti, dan lagu penutup. Gerak yang digunakan seperti layaknya kesenian rakyat lainnya yaitu gerak sederhana serta tidak ada aturan-aturan yang baku. Rias yang dipergunakan adalah rias sehari-hari. Busana yang digunakan dalam pementasan yaitu baju putih lengan pendek, celana hitam pendek rias, topi, gombyok, sampur kecil dan kaos kaki. Iringan menggunakan beberapa instrumen yaitu terbang, kendang, kendang buntung, genjring, dan orgent. Tempat pentas biasanya di tanah lapang atau halaman rumah yang luas, kadang kala juga di gedung. Lama pentas sekitar 6 samapi 7 jam, umumnya mulai pukul 21.00 sampai menjelang subuh. Ada sesaji berupa kembang telon (mawar, melati, kantil), minuman (kopi,teh), kelapa muda, makanan kecil (kacang, emping), rokok. Dalam perkembangan kesenian Madya Pitutur ini mengalami perubahan terutama dalam fungsi, yang semula sebagai fungsi upacara bergeser ke fungsi hiburan.