Abstract :
Penelltlan lnl nembahas pertunjukan talenpong Jalur,
khusus mondeskripsikan keberadaan pertunjukan talempong
jalur di tengah-tengah masyarakat Rantau Kuantan dan men-
jelaskan struktur komposisinya. Pendekatan yang digunakan
adalah pendekatan historis, budaya dan musikologis.
Pertunjukan talempong jalur bagl masyarakat Rantau
Kuantan pada mulanya merupakan suatu kegiatan ritual
yang tidak bisa dilepaskan dari kepercayaan masyarakat
setenpat. Aspek ritual dalam talempong Jalur seperti
terlukis dalam berbagai upacara. Pertama upacara ratik
bajalan, yakni upacara yang dilakukan dengan berjalan
kaki sepanjang kampung dan di sungai dalam bentuk berperahu
bersama-sama guna memohon pertolongan kepada roh atau mambang untuk menghalau wabah penyakit yang menimpa
penduduk. Kedua, upacara babalian yakni upacara yang
dilaksanakan untuk memanggil roh atau mambang guna memohon
pertolongan dalam prosea pencarian kayu di hutan untuk membuat perahu jalur. Ketiga, upacara manobang kayu yaitu upacara yang dilaksanakan di dalam hutan menjelang
penebangan kayu untuk pembuatan perabu jalur. Keempat, upacara maelo jalur yaitu upacara menarik jalur yang baru dikerjakan dalam bentuk setengah jadi dari hutan
nenuju kampung. Kelima, upacara mangopuang ikan
yaitn upacara yang dilaksanakah sebelum penangkapan ikan di Sungai Kuantan.
Ketika gerakan Muhammadiyah masuk ke daerah Rantau Kuantan pada tahun 1950-an, maka segala pertunjukan yang bersifat magi tersebut mendapat tantangan kuat dari gerakan ini. Gerakan Muhammadiyah menganggap bahwa pertunjukan yang bersifat magi merupakan perbuatan syirik.
Sejak dekade 1960-an, seni pertunjukan talempong jalur dijadikan sebagai suatu kegiatan tontonan, yaitu untuk upacara pacu jalur (lomba mendayung sampan) dan acara
basilek (pencak silat).
Ditinjau dari struktur komposisi pertunjukan talempong
jalur terdiri atas tiga bagian yakni: pertama, pambao
(awal sajian); kedua, panuruikan (isi lagu); dan ketiga panutuik (penutup). Untuk merekonstruksi struktur
konposisi pertunjukan talemopong jalur dllakukan dengan
cara merekam ke dalam pita kaset, setelah itu dibahas
struktur komposisi dan unsur musik yang ada dalam pertunjukan talempong jalur.
Berhubung di Minangkabau pada umumnya dan Rantau
Kuantan khususnya belun memiliki simbol khusus untuk menotasikan musik, maka pendeskripsiannya masih menggunakan
notasi angka.