Abstract :
ABSTRAK
Tari Belenderan merupakan tari rakyat dan berfungsi sebagai tari hiburan. Tari Belenderan tumbuh dan berkembang di Kabupaten Karawang sejak tahun 1938. Setelah mengalami pasang surut, tari Belenderan ditampilkan kembali pada tahun 1994 hingga sekarang. Dalam waktu yang cukup lama tari Belenderan telah mengalami penerusan generasi. Belenderan memiliki arti ?lelaki memberi bibit dan wanita yang menandur?. Tujuan dari penilitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses revitalisasi tari Belenderan serta bentuk tari Belenderan.
Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan bentuk deskriptif analisis. Pendekatan yang digunakan adalah koreografis. Adapun teori yang digunakan merupakan teori bentuk oleh Soedarsono meliputi unsur-unsur pokok komposisi tari. Serta teori revitalisasi oleh Sri Rochana Widyastutieningrum meliputi upaya pengembangan tari dengan cara melakukan penggalian, rekonstruksi, reinterpretasi dan reaktualisasi.
Hasil penelitian proses revitalisasi tari Belenderan yang dilalui oleh Abah Sarna selaku seniman dan penari tari Belenderan merupakan bentuk sikap kepedulian atas tari Belenderan untuk menghidupkan kembali dan melestarikan tari Belenderan agar tetap hidup dengan proses revitalisasi seperti merekonstruksi, mereinterpretasi dan mereaktualisasikan tari Belenderan. Hasil penelitian menunjukan bahwa bentuk tari Belenderan merupakan tari rakyat yang dapat dibawakan secara tunggal, pasangan, atau kelompok dengan tema nandur atau menanam.