Abstract :
ABSTRAK
Tesis yang berjudul ?Familiaritas Musik dalam Terapi Pasien
Skizofrenia? bermaksud untuk menggali hubungan unsur-unsur musik
dangdut dengan kejiwaan. Penelitian ini menerapkan dua model penelitian
kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kuantitatif digunakan sebagai
pendukung penelitian kualitatif dalam proses pengambilan data. Metode
etnografi digunakan sebagai basic riset untuk memahami gejala.
Prosedur brain mapping diterapkan untuk pasien skizofrenia paranoid,
skizofrenia takterinci, skizofrenia residual, dan skizofrenia hebrefenik, orang tidak
menderita gangguan jiwa. Hasil ditemukan bahwa kondisi basal dari pasien
penderita skizofrenia adalah 7 Hz. Kondisi tersebut merupakan frekuensi
gelombang theta. Sedangkan pada saat waham, maka kondisi pasien
skizofrenia 25-26 Hz (kondisi gamma). Jadi, kondisi gelombang otak pasien
skizofrenia dinyatakan stabil ketika mencapai kondisi alpha. Kondisi tersebut
terjadi ketika stimulus musik dangdut Oplosan (Nurbayan), Suket
Teki(Didi Kempot), Ku Tak Berdaya (Rhoma Irama). Sedangkan untuk lagu
Sayang Wawes dan Kemarin, menciptakan kondisi gelombang otak pasien
skizofrenia mencapai theta (tidak adanya perubahan kondisi basal dengan
stimulus musik), beta (mencapai kondisi depresi atau peningkatan denyut
jantung), dan gamma (mengalami halusinasi dan waham).
Tempo ideal yang berhasil dalam terapi adalah andante 65-100 bpm.
Interval dengar berjarak sekitar 1,5 meter dari temat tidur pasien. Durasi
maksimal 30 menit, berlaku untuk lima sampai enam lagu. frekuensi pada
setiap lagu materi terapi musik untuk pasien skizofrenia adalah 65 Hz-10
Khz. Tingkat kenyaringan (volume) antara 47,5 db.
Familiaritas adalah faktor utama pasien skizofrenia mencapai kondisi
gelombang otak yang seimbang. Familiaritas yang melekat pada diri pasien
skizofrenia terbentuk karena kontribusi dari (1) pengalaman musikal pasien
selama hidupnya. (2) Pengalaman kultural di mana ruang tersebut
membentuk karakter psikis seseorang. (3) Pengalaman sosial pasien
skizofrenia yang berkontribusi penuh terhadap selera. Ikatan emosi pasien
terhadap musik yang familar, membantu memulihkan bagian pre frontal
konteks terutama bagian pengendali sistem saraf emosi (amigdala). Sebab
amigdala berkontribusi penuh pada saraf yang berhubungan dengan denyut
jantung.