Abstract :
INTISARI
Penelitian yang berjudul Seremonialisme Tari Bedhaya Tunggal
Jiwa pada Upacara Grebeg Besar di Kabupaten Demak ini merupakan
usaha menelusuri dan mengungkapkan persoalan tari sebagai perangkat
upacara tradisi. Faktor apa saja yang mendasari tari Bedhaya Tunggal Jiwa
memiliki posisi penting dalam upacara Grebeg Besar di Kabupaten
Demak, bagaimana dampak hadirnya tari Bedhaya Tunggal Jiwa terhadap
lapisan masyarakat di Kabupaten Demak. Metode yang digunakan adalah
metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan
Etnokoreologi. Penelitian ini menggunakan beberapa kerangka
konseptual dan teori. Di antaranya teori milik Marco De Marinis dalam
buku semiotic of performance, konsep joget mataram milik KPH
Brongtodiningrat, konsep bentuk milik suzzane K Langer dengan
menguraikan elemen-elemen koreografi mengenai penari, gerak tari, pola
lantai, musik tari, tata rias dan busana, properti tari, waktu dan tempat
pertunjukan kemudian yang diperjelas dengan teori effort shape milik
Laban serta konsep Geertz mengenai seremonialisme. Teknik analisis data
menggunakan tujuh langkah penelitian milik Gertrude Kurath yaitu
penelitian lapangan, laboratory studi, memberi penjelasan mengenai gaya
tari dan ragamnya, graphic presentation, pemetaan data tari, membuat
sintesis dan simpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa tari Bedhaya
Tunggal Jiwa merupakan salah satu prosesi dalam upacara Grebeg Besar di
Kabupaten Demak yang tertulis dalam Surat Keputusan Bupati, sehingga
tari tersebut melekat pada rangkaian upacara Grebeg Besar. Adanya
strategi seni, inovasi, kreasi dan pelestari, membentuk sebuah
pertunjukan yang menjadi tradisi masyarakat Kabupaten Demak. Selain
itu bentuk sajian tari tersebut memiliki pesan serta makna yang dapat
diidentifikasi melalui elemen koreografi. Hadirnya tari Bedhaya Tunggal
Jiwa dalam upacara Grebeg hampir 30 tahun memberi dampak terhadap
spiritual, ekonomi, sosial masyarakat setempat.