Abstract :
ABSTRAK
Penelitian yang berjudul ?DIMENSI INTERKULTURAL PADA
POLA PERMAINAN GENDANG DANGDUT KOPLO? dilatarbelakangi
oleh salah satu persoalan proses interkultural yang terjadi pada
perkembangan teks musikal dangdut. Koplo dewasa ini melekat
dalam perkembangan musik dangdut. Koplo menjadi bahasa
musikal yang direpresentasikan melalui pola permainan
gendangnya. Permainan gendang dalam Dangdut Koplo
mengkonstruksi citra musikal yang menyebabkannya berbeda
dengan dangdut era sebelumnya. Pola gendang Dangdut Koplo
banyak mengadopsi berbagai pola kendang pada seni tradisional
dari berbagai wilayah budaya.
Penelitian ini membahas mengenai bagaimana koplo menjadi
bahasa musikal dalam genre dangdut. Bagaimanakah pola
permainan kendang menjadi perangkat vital dalam membentuk
musikalitas Dangdut Koplo. Kemudian membahas mengenai
proses antar budaya yang terbentuk melalui adaptasi berbagai
pola kendang kedaerahan di dalam permainan gendang Dangdut
Koplo, sehingga menghasilkan ?dimensi interkultural?. Bagaimana
proses dan bentuk dari dimensi interkultural juga menjadi objek
yang dibedah.
Metode kualitatif yang dilakukan dalam proses penelitian
menggunakan ?fenomenologi? atau studi tentang fenomena dari
Edmund Husserl, untuk mendapatkan hasil penelitian
berdasarkan sudut pandang emik. Gejala umum Dangdut Koplo
dikonstruksi oleh dimensi interkultural pola permainan gendang,
digali melalui depth interview, telusur dokumentasi audio visual,
yang dipaparkan melalui analisis melalui tabel, gambar, skema,
dan notasi kepatihan.
Penelitian ini pada akhirnya memperlihatkan Dangdut Koplo
dipandang lebih ?progresif? dengan unsur pencampuran berbagai
genre, pola gendang dinamis dengan tempo cepat, erotisme yang
muncul melalui biduan, munculnya variasi gendang yang disebut
jem-jeman, dan masuknya senggakan yang menjadi bagian
musikalnya. Gendang menjadi perangkat penting yang
membentuk citra Dangdut Koplo. Proses interkultural dalam pola
gendang dilakukan oleh satu orang (subjek) praktisi melibatkan
unsur pola kendang kedaerahan yang diadaptasi dan dikreasikan
ulang dalam Dangdut Koplo. Fenomena tersebut menjadi sebuah
refleksi bahwa proses interkultural (secara umum) tidak mesti
harus melibatkan dua orang (subjek) dari dua wilayah berbeda.