Abstract :
Kemiskinan adalah hal yang sering terdengar dikalangan masyarakat, pemicu utama kemiskinan adalah akibat ketimpangan ekonomi yang terjadi di antara masyarakat Indonesia dan hal tersebut merupakan fakta yang sudah sangat tua. Penyebutan ketimpangan sendiri Negara Indonesia dikenal dengan sumber daya alam yang cukup kaya dari zaman ke zaman senantiasa dihiasi oleh dualisme ekonomi. Proyeksi kemiskinan tidak hanya bisa dilihat dari muka seseorang, bisa pula dari pakaian, maupun dari tempat tinggalnya, dan kemiskinan juga mampu tercermin didalam diri seseorang.Ide dalam memerankan tokoh waska pada naskah lakon Umang-umang karya Arifin C. Noer ini muncul ketika pengkarya memiliki pengalaman saat pengkarya pribadi mengalami adanya rasa pada saat melihat fenomena disekitar pengkarya. Seperti halnya ketika pengkarya melihat potret-potret kemiskinan yang ada di kota kelahiran maupun perantauan, pengkarya sering dihadapkan pada potret jalanan yang penuh dengan anak kecil mengemis, yang seharusnya masih bisa bersekolah, orang yang tuna wisma dan malah mengalami pengusiran dijalanan, potret-potret yang sedemikian rupa kemudian pengkarya adopsi pada sebuah gagasan pemeranan karya teater dengan mediasi naskah umang-umang atawa orkes madun II karya Arifin C. Noer.