Abstract :
Dokumenter ?Akar Manusia Urban?, terbentuk karena kegelisahan pengkarya yang merasa berjarak dengan budaya dan tradisi dari kampung halaman orang tua. Tumbuh besar di Jakarta, dengan orang tua yang berbeda suku membentuk identitas sebagai anak urban. Film dokumenter ini didasarkan pengalaman empiris pengkarya, yang mengunjungi kampung halaman orang tua di Palangkarya dan Larantuka untuk
mengenal keluarga besar dan nilai tradisi yang ada. Proses pembuatan karya ini menggunakan metode auto-etnografi dimana pengkarya meneliti kebudayaannya sendiri dan menuangkannya dalam sebuah karya. Perkawinan antar suku yang terjadi di Indonesia seringkali tidak disertai dengan pengenalan terhadap budaya daerah. Hal ini membuat anak-anak urban berjarak dengan budaya dan tradisi orang tua. Perjalanan ke
kampung halaman dilakukan untuk memahami silsilah keluarga besar dan nilai-nilai dalam keluarga dari kedua sisi orang tua. Dokumenter ini merekam kegiatan domestik di Palangkaraya, Kalimantan Tengah dan Larantuka, Nusa Tenggara Timur. Dibalik banyaknya perbedaan ternyata ditemukan banyak persamaan dari kedua suku Dayak dan Flores.