DETAIL DOCUMENT
MASKOT SEBAGAI PENCITRAAN KOTA (STUDI KOTA CIMAHI DAN MALANG)
Total View This Week0
Institusion
Institut Seni Indonesia Surakarta
Author
Kusuma, Paku
Subject
Penciptaan dan Pengkajian Seni 
Datestamp
2023-01-17 02:56:24 
Abstract :
Wilayah perkotaan merupakan entitas yang paling membutuhkan adanya program pencitraan. Kepentingan ini mengingat peran kota sebagai pusat ekonomis dan politis. Pada perkembangannya beberapa kota mengadopsi maskot sebagai figur visual dalam pencitraan kotanya. Penggunaan figur ini awalnya sebagai pembeda dengan wilayah lain, ternyata juga membawa nuansa kebaruan dalam proyeksi pencitraan yang layak untuk dikaji. Penelitian ini melihat keterkaitan wujud maskot dengan identitas kota sehingga mampu memberikan deskripsi mengenai maskot kota dan menemukan konsep aplikasi maskot kota. Penelitian menggunakan prinsip kualitatif dengan pendekatan keilmuan Desain Komunikasi Visual. Penyajian data dilakukan secara deskriptif analitik. Lokasi penelitian adalah Kota Cimahi dan Kota Malang yang dipilih berdasarkan kriteria: kemudahan akses data, ketersediaan responden di lapangan, entitas industri kreatif, aplikasi media yang sudah dilaksanakan, peran serta masyarakat, dan kinerja media. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan berperan serta, wawancara mendalam, studi literatur, dan kelompok diskusi terarah (FGD). Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara deskriptif, mengingat topik yang dibicarakan terkait erat dengan nilainilai yang menjadi identitas kota. Validasi data menggunakan triangulasi metode dan triangulasi sumber data. Triangulasi sebagai langkah pembuktian hasil temuan yang dijadikan novelty penelitian. Hasil penelitian menemukan kesimpulan rumusan konsep Anseun yang menjadi orisinalitas dari penelitian disertasi. Konsep Anseun adalah konsep terapan tiga jenjang (Antam, Seren, dan Unjal) yang semestinya dilakukan oleh pemerintah kota dalam mengadopsi maskot. Pola penerapan maskot yang unik ini sejalan dengan gambaran maskot yang bisa luwes diterapkan dalam berbagai media yang ada. Teknis tiga jenjang yang dibuat memiliki keterbukaan adanya kolaborasi antar elemen pemangku kepentingan kota dan terlepas dari tekanan politis dari pemangku kebijakan kota. 
Institution Info

Institut Seni Indonesia Surakarta