Abstract :
Nyanyuk merupakan istilah dalam Bahasa Banjar untuk menggambarkan
kondisi psikologi seseorang yang kacau, tidak dapat memusatkan perhatian, antara
sadar dan tidak sadar. Pengkarya banyak melihat fenomena nyanyuk dalam berbagai
peristiwa sosial-budaya masyarakat. Gejala nyanyuk yang melanda banyak orang
ini menarik perhatian pengkarya untuk diangkat dalam karya seni.
Memertimbangkan latar belakang pengkarya yang sejak kecil hidup di lingkungan
kesenian tradisi dan menggeluti gamelan, khususnya gamelan Banjar, maka
pengkarya mengangkat persoalan nyanyuk lewat media bunyi gamelan Banjar.
Tujuan pengkarya membuat karya nyanyuk, yaitu: menjaga eksistensi gamalan
Banjar sejak dulu, hari ini, dan masa akan datang dengan membuat komposisikomposisi
musik baru yang berdasar pada gamalan Banjar agar bisa diterima pada
setiap masanya, serta menafsir bunyi-bunyi yang lahir dari sebuah imajinasi
pengkarya berdasar pada instrumentas-intrumentasi musikal yang ada pada
gamalan Banjar.
Pengkarya menggunakan pola musikal saluk sebagai media utama pembuatan
karya nyanyuk. Selain itu, pengkarya akan tetap menggunakan teknik-teknik tabuh
Gamalan Banjar lainnya untuk memperkaya ornamentasi bunyi. Pengkarya menggali
sisi lain dari gamalan Banjar, bagaimana mengungkap esensi gamalan ke dalam
sebuah pertunjukan yang melibatkan semua cabang kesenian dalam satu performing
arts. Pengkarya mencoba membaca ruang pertunjukan yang berorientasi kepada
nilai kebaruan dalam konsep kekaryaan, di mana seni pertunjukan sudah membuka
diri yang sebesar-besarnya untuk menjadi bahan kenikmatan bagi para pelakunya
dan penikmatnya (penonton).
Gagasan tentang ?Nyanyuk? merupakan tema besar yang kemudian
dijabarkan lagi dalam sejumlah topik yang diwujudkan dalam bentuk 4 komposisi
musik, yaitu: Saluk Manyaluk, Batamasa, Lalakun Diri, Bahinam, Nyanyuk.