Abstract :
ebuah survei dari Programme for International Student Assessment (PISA) yang
dilakukan oleh Economic Co-operation and Development (OECD) di tahun 2018
menghasilkan data bahwa nilai matematika remaja Indonesia berada di bawah ratarata negara lainnya di Asia. Selain nilai matematika, kekurangan remaja Indonesia
juga terdapat pada pengetahuannya akan budaya lokal yang masih rendah, termasuk
di Cirebon dengan budaya Lukis Kaca. Hal ini dibuktikan dari hasil kuisioner
dengan responden 52 pelajar di Cirebon, hanya 2 orang yang mengetahui Lukis
Kaca Cirebon. Oleh karena itu, dibutuhkan media ajar yang dapat menjadi solusi
alternatif untuk mengasah kemampuan matematika remaja, sekaligus untuk
mengenalkan budaya Lukis Kaca Cirebon pada mereka. Media ajar yang dinilai
efektif untuk menjangkau dua hal tersebut adalah board game. Dinilai efektif
karena selain mengandung nilai edukatif dan menghibur, juga kompetitif di saat
yang sama. Metode yang digunakan untuk menerapkan gaya Lukis kaca Cirebon
pada board game yaitu matriks morfologi, yang dalam prosesnya menghasilkan
banyak opsi ide visual. Board game kemudian dipromosikan dengan model AISAS
(Attention ? Interest ? Search ? Action ? Share) dari Dentsu.di media social TikTok,
karena banyak digunakan oleh remaja. Hasil ujicoba pada perancangan
menunjukkan remaja menyukai board game dan visualnya yang dibuat dengan gaya
Lukis Kaca Cirebon