Abstract :
Perkembangan teknologi saat ini mendorong perputaran informasi yang semakin cepat
berkat akses internet yang semakin merata. Perputaran informasi di sosial media
menciptakan tren dan hoaks. Kelompok usia remaja 13-18 tahun menduduki posisi
tertinggi dengan presentase 98,20% usia tersebut terhubung ke internet (APJII, 2023). Fase
remaja merupakan transisi dari masa anak-anak menuju dewasa, umumnya remaja
memiliki rasa ingin tahu yang besar terhait hal-hal disekitarnya maupun yang dialami
teman-temannya (Diananda, 2019). Remaja sebagai kelompok usia yang rentan mengikuti
tren terbaru serta pengguna internet dan media sosial terbanyak saat ini perlu membekali
diri agar dapat menyaring hoaks. Kelompok usia 15-17 tahun gemar mendemonstrasikan
pengetahuan yang mereka dapatkan (Stewart, 2013). Oleh karena itu kelompok usia 15-17
tahun memiliki kecenderungan membagikan konten di media sosial. Sehingga animasi
edukasi bahaya hoaks bagi remaja ini akan spesifik menargetkan kelompok usia 15-17
tahun sebagai target audiens. Perancangan animasi sebagai media edukasi bahaya hoaks di
media sosial dapat menjadi solusi dalam mengemas edukasi yang menarik bagi remaja.
Perancangan animasi ini memanfaatkan platform Youtube sebagai media promosi.
Perancangan animasi edukasi bahaya hoaks bagi remaja ini menggunakan metode Design
Thinking oleh Hasso Plattner (2011) yang terdiri dari 5 tahapan yaitu Empathize, Define,
Ideate. Prototype, dan Test. Karya animasi 2D ini melalui metode perancangan dari
Bambang Gunawan Santoso (2012) dalam prosesnya meliputi tiga tahapan yaitu praproduksi, produksi, dan paska-produksi. Perancangan karakter animasi 2D menggunakan
metode dari Joe Murray (2010) yang terdiri dari main character, background, character
design, dan consistency. Hasil perancangan ini adalah animasi 2D berjudul Ho:Axe
sebanyak dua episode yang membahas hoaks secara umum dan post-truth.