Abstract :
?Gaya bertutur Randai dalam film Rantau? merupakan upaya
penggabungan bentuk bertutur seni tradisi dengan film dalam
mengungkap tema Rantau. Eksplorasi unsur bertutur ?Randai?
menghasilkan satu bentuk tawaran penuturan film yang berbeda.
Pendekatan yang dilakukan untuk pencapaian konsep tersebut melalui
Barapak. Pendekatan yang memposisikan kedua bentuk media seni (film
dan Randai) dalam posisi yang seimbang. Menemukan unsur kekuatan
dan karakter utama dari kedua bentuk seni tersebut, kemudian disatukan
sehingga melahirkan bentuk yang berbeda (hybrid). Pendekatan tersebut
memberikan alternatif dalam memilih bentuk dan gaya pengungkapan
film. Alternatif tersebut tercermin dari bentuk penceritaan dan wujud
visual yang tidak terikat dengan konvensi, sebaliknya menghilangkan
sekat dari beberapa bentuk unsur seni. Setiap budaya memiliki local
knowledge, seperti tradisi penceritaan yang unik, baik melalui legenda,
mitos, cerita rakyat, maupun adat istiadat dan ritual. Eksplorasi cara
bertutur budaya lokal dan dialektika kesenian daerah, memperkaya dan
memperluas cakupan narasi film. Pembuat film dapat menghadirkan
cerita yang lebih autentik dan mendalam, sehingga seni tidak hanya
berfungsi sebagai elemen estetika, tetapi juga sebagai medium untuk
menyampaikan pesan budaya. Dampaknya mampu memperkaya metode
dan cara pengungkapan dalam penciptaan film. Selain itu, terjadi
perluasan dari seni pertunjukan tradisi, dengan ruang dan waktu terbatas,
menjadi bentuk seni yang bisa hadir di ruang presentasi tak berbatas.
Sedangkan film hadir dengan gaya bertutur yang variatif dengan
penambahan unsur bertutur lokal tertentu. Barapak, sangat efektif
dilakukan dalam berkreativitas seni, karena Indonesia memiliki kekayaan
budaya yang beragam. Proses tersebut akan menyuburkan budaya film
dengan memberi ruang pada pembuat film untuk melakukan beragam
cara dan bentuk, dalam mengekspresikan pemikiran dan kreativitasnya.