DETAIL DOCUMENT
Analisis pengaruh komposisi cairan pendingin terhadap kekasaran permukaan, temperatur pahat, keausan pahat dan chip morphology pada proses pembubutan st-41
Total View This Week0
Institusion
Institut Teknologi Kalimantan
Author
Pamungkas, Satrio
Subject
TS Manufactures 
Datestamp
2022-07-19 00:57:53 
Abstract :
Cairan pendingin yang biasa digunakan yaitu dromus (produk komersil) cairan pendingin ini memiliki dampak berbahaya bagi lingkungan maka dicari alternatif pengganti cairan pendingin yaitu dengan menggunakan emulsi minyak sawit dan air yang relatif aman, mudah dibuat cairan pendingin yang mempunyai kualitas minimal setara dengan cairan pendingin yang biasa digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh komposisi cairan pendingin terhadap nilai kekasaran permukaan, temperatur pahat, keausan pahat dan mengetahui bentuk chip morphology terhadap komposisi cairan pendingin. Metode yang digunakan yaitu komposisi emulsi minyak sawit dan air diatur lalu ditambahkan sabun cair dengan menggunakan gelas ukur,timbang pahat sebelum proses pembubutan,nyalakan mesin dan lakukan proses pembubutan sambil ukur temperatur tertinggi pada pahat,setelah selesai lepas mata pahat lalu ditimbang tiap tiga kali pengulangan lalu putar mata pahat untuk spesimen selanjutnya,lalu ukur panjang chip,proses pembubutan ini dilakukan tiga kali pengulangan terhadap satu spesimen dan dengan variasi yang berbeda. Total titik yang digunakan pada uji kekasaran permukaan sebanyak 9 titik. Untuk hasil kekasaran permukaan diperoleh pada variasi tanpa pendingin sebesar 6,337 ?m, pada variasi cairan pendingin emulsi minyak sawit dan air dengan komposisi 1:20;1:15 dan 1:10 diperoleh nilai kekasaran permukaan secara berurutan sebesar 5,976 ?m, 5,1400 ?m, 2,896 ?m, dibanding dengan nilai kekasaran permukaan pada variasi cairan pendingin dromus sebesar 5,396?m. Hasil keausan pahat diperoleh pada variasi tanpa pendingin sebesar 4,7 miligram, pada variasi cairan pendingin emulsi minyak sawit dan air dengan komposisi 1:20 ; 1:15 dan 1:10 diperoleh nilai rata-rata keausan pahat secara berurutan sebesar 1,33 miligram, 1 miligram, 1 miligram, dibanding nilai keausan pada variasi cairan pendingin dromus diperoleh 2 miligram. Temperatur pahat tertinggi pada variasi tanpa pendingin sebesar 76,7?, pada variasi cairan pendingin emulsi minyak sawit dan air dengan komposisi 1:20;1:15; dan 1:10 diperoleh temperatur pahat tertinggi secara berurutan sebesar 43,8?, 43,2?, 45,7?, dibanding temperatur tertinggi pada variasi cairan pendingin dromus sebesar 38,1?. chip terpendek diperoleh pada variasi tanpa pendingin sepanjang 12,46 mm, pada variasi cairan emulsi minyak sawit dan air dengan komposisi 1:20;1:15 dan 1:10 memperoleh chip panjang berurutan sepanjang 16,950 mm,110,588 ,152,54 mm,dibandingkan variasi cairan pendingin dromus yang diperoleh chip sepanjang 40,415 mm 
Institution Info

Institut Teknologi Kalimantan