DETAIL DOCUMENT
Feasibility Study Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) On-Grid pada atap gedung B Institut Teknologi Kalimantan
Total View This Week0
Institusion
Institut Teknologi Kalimantan
Author
Pratiwi, Andhika Rufty
Subject
AS Academies and learned societies (General) 
Datestamp
2022-07-20 06:16:32 
Abstract :
Kota Balikpapan adalah kota yang terletak di Provinsi Kalimantan Timur yang mempunyai luas wilayah yaitu kurang lebih 503.3 km2. Kota Balikpapan mempunyai potensi untuk dilakukan pemasangan PLTS, salah satunya adalah kampus Institut Teknologi Kalimantan (ITK). Kampus ITK khususnya pada gedung B perlu memaksimalkan penggunaan energi baru terbarukan berupa PLTS atap. Sebelum dilakukan perancangan PLTS pada gedung B ITK diperlukan sebuah studi kelayakan atau feasibility study mengenai gedung B ITK dari segi teknis maupun ekonomi. Feasibility dari perencanaan PLTS pada atap gedung B ITK dapat dikatakan layak dikarenakan setelah dilakukan analisis didapatkan besarnya nilai dari performance ratio (PR) yaitu 86% dari indikator kelayakan antara 70%-90%.Berdasarkan hasil simulasi didapatkan banyaknya jumlah panel surya pada atap gedung B ITK sebanyak 640 panel dengan yang digunakan, maka dapat diperoleh banyak rangkaian seri yang disusun sebanyak 20 modul, sehingga total string yang didapatkan yaitu sebanyak 16 string dan jumlah inverter yang digunakan yaitu berkapasitas 50 kW dengan merk Canadian Solar dengan jumlah inverter sebanyak 3 inverter yang masing masing inverter terdiri dari 4 string modul surya. Besarnya losses yang dihasilkan dari losses kabel sebesar 0,005%, losses Manufacture sebesar 3%, losses kotoran, debu dll sebesar 5%, losses temperature modul sebesar 5,7%. Sehingga total losses yang dihasilkan sebesar 13,705%. Hasil dari analisis ekonomi didapatkan hasil dari payback periode (PP) atau biaya balik modal didapatkan berdasarkan dari data suhu dan radiasi matahari. Hasil dari payback periode akan didapatkan biaya balik modal selama 10 tahun (COE ESDEM) dan selama 6 tahun (COE ITK). Payback periode dari COE ESDEM lebih lama dibandingkan dengan CEO ITK karena COE ESDEM dipengaruhi oleh parameter biaya siklus hidup (LCC) dikalikan dengan faktor pemulih modal (CRF) dan kemudian dibagi dengan energi tahunan (Eyield). Sehingga didapatkan hasil biaya energi sebesar Rp. 538,420/ kWh. Hasil biaya COE ESDEM per kWh lebih rendah dari COE ITK yaitu sebesar Rp.900/kWh yang didapatkan dari harga per kWh pada tagihan rekening listrik. 
Institution Info

Institut Teknologi Kalimantan