Abstract :
Latar Belakang : Prevalensi miopia pada anak-anak terus meningkat setiap tahunnya, termasuk di\nIndonesia. Miopia yang tidak ditangani dapat menyebabkan komplikasi serius seperti glaukoma,\nkatarak, dan ablasi retina serta atrofi. Berdasarkan studi pendahulu di JTEC Rumah Sakit Harapan\nBunda, prevalensi miopia meningkat dari 33% menjadi 67%. Tujuan : untuk mengidentifikasi\nhubungan antara faktor genetik, jenis kelamin, aktivitas luar ruangan, dan penggunaan gadget\ndengan kejadian miopia pada anak usia 7-11 tahun di JTEC Rumah Sakit Harapan Bunda. Metode\n: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional terhadap 81\nanak usia 7-11 tahun yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Data dikumpulkan\nmelalui membagian informed consent, serta kuesioner terkait faktor risiko. Kemudian, data\ndianalisis menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan komputer dengan\nprogram komputer. Hasil : penelitian menunjukkan hubungan signifikan antara jenis kelamin dan\nkejadian miopia dengan nilai 0,007 (p <0,05). Faktor genetik nilai p = 0,002(p <0,05). Aktivitas\nluar ruangan nilai p = 0,039 (p <0,05). Penggunaan gadget dengan nilai p = 0,001(p<0,05).\nKesimpulan : Sebagai upaya preventif dalam menekan prevalensi miopia di Rumah Sakit\nHarapan Bunda dan menunjukkan pentingnya memperhatikan riwayat genetik, perbedaan jenis\nkelamin, pengurangan penggunaan gadget.