Abstract :
Latar Belakang: Rumah sakit hendaknya harus dilengkapi dengan alat untuk mengelola kualitas\nmutu pelayanan yang diberikan kepada pasien sehingga pelayanan kesehatan di mana diberi atas\ntenaga kesehatan bisa terpadu dan mengurangi resiko dalam proses layanan klinis. Salah satu alat\nuntuk mengelola kualitas layanan adalah clinical pathway. clinical pathway ataupun juga alur\nklinis yaitu proses multidisiplin yang dirancang untuk menyediakan perawatan kepada penderita\ndengan tepat waktu melalui sebuah pendekatan kolaboratif dan juga interdisipliner. Tujuan: Dalam\ndilaksanakannya penelitian ini memiliki tujuan agar dapat mengkaji implementasi yang dimiliki\nclinical pathway tuberkulosis paru pasien rawat inap pada RSUD Kabupaten Bekasi. Metode:\nAdanya sebuah penelitian ini yaitu berupa penelitian kuantitatif melalui penarikan data dengan\nretrospektif menggunakan sebuah data yang berupa rekam medis menderita dari tuberkulosis paru\nrawat inap di RSUD Kabupaten Bekasi selama periode Januari-Desember 2023. Populasi penelitian\nadalah 88 responden, dengan sampel sebanyak 72 responden yang ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan batas kesalahan 0,5%. Instrumen pengumpulan data menggunakan formulir clinical pathway yang berpedoman pada KARS 2012. Hasil: Didapatkan jika penderita TB paru\nmayoritasnya dialami oleh laki-laki (63,9%), dengan mayoritas usia >50 tahun (41,7%), pendidikan\nSMA (59,7%), dan pekerjaan wiraswasta (56,9%). Tatalaksana pengobatan pada tahap intensif dilakukan pada 91,7% pasien, dan tahap lanjut pada 8,3% pasien, dengan tingkat kesesuaian pengobatan mencapai 100%. Berdasarkan hasil penelitian, outcome klinis kategori sembuh tercatat sebanyak 36,1%, sedangkan pasien yang melanjutkan pengobatan jalan sebanyak 63,9%. Kesimpulan: Implementasi clinical pathway tuberkulosis paru di RSUD Kabupaten Bekasi belum terimplemplementasi dengan baik dikarenakan ada beberapa aktivitas yang belum terlaksanakan. Penerapan clinical pathway sangat penting dalam meningkatkan outcome klinis pasiennya. Disebabkan but, bisa direkomendasikan kepada sebuah instansi yang melayani\nkesehatan terutama pada manajemen rumah sakit untuk menerapkan clinical pathway dalam\nmeningkatkan outcome klinis pasien