DETAIL DOCUMENT
IDENTIFIKASI BACKFIRE YANG TERJADI PADA AUXILIARY BOILER DI MV. SPIL NIRMALA
Total View This Week0
Institusion
Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang
Author
KRISMANTO, DEDY WAHYU
Subject
Teknika 
Datestamp
2022-09-26 08:41:40 
Abstract :
ABSTRAKSI Krismanto, Dedy Wahyu. 2022. 551811236907 T. ?Identifikasi Backfire yang Terjadi Pada Auxiliary Boiler Di Kapal MV. Spil Nirmala?, Program Diploma IV, Program Studi Teknika, Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang, Pembimbing I: Abdi Seno, M.Si, M.Mar E, Pembimbing II: Ir. Fitri Kensiwi, M. Pd. Boiler merupakan salah satu mesin bantu diatas kapal yang berfungsi sebagai permesinan bantu yang memproduksi uap panas, dimana uap panas tersebut dimanfaatkan untuk menunjang pengoperasian kapal. Salah satu pemanfaatan uap panas hasil produksi dari boiler adalah sebagai pemanas, baik pemanasan untuk bahan bakar, pemanas untuk ruangan dan pemanas air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari diatas kapal dengan memanfaatkan tenaga uap. Operasional kapal akan terganggu atau terhambat apabila ketel uap tidak dapat bekerja secara optimal. Dalam penelitian ini dimaksudkan dengan tujuan untuk mengetahui faktor, dampak, serta upaya yang dapat dilakukan untuk menghindari terjadinya backfire. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan metode analisis data SHEL. Observasi, wawancara dan studi pustaka dilakukan untuk mengumpulkan data. Peneliti melakukan pengujian keabsahan data dengan metode triangulasi. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, faktor yang dapat menyebabkan terjadinya backfire adalah karena penerapan perawatan yang tidak sesuai dengan PMS, tidak optimalnya supporting device seperti tekanan blower yang lemah dan pengabutan bahan bakar yang tidak sempurna, tingginya suhu kamar mesin dan cuaca angin juga dapat mempengaruhi dari kinerja boiler, selain itu faktor yang dapat menyebabkan terjadinya backfire adalah keterbatasan pengalaman dan pengetahuan crew terhadap permesinan diatas kapal. Berbeda jika PMS diterapkan dengan benar pada pengoperasian, perawatan, dan perbaikan, permesinan dapat bekerja secara optimal. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dimana perawatan pada boiler yang seharusnya dilakukan dengan interval tiga bulan sekali namun yang terjadi hanya dilakukan pada bulan kedua dan ketujuh saja. Dari timbulnya permasalahan tersebut didasari pada pengetahuan dan kesadaran crew akan pentingnya pelaksanaan PMS untuk menghindari terjadinya kerusakan pada permesinan dan dapat bekerja secara optimal untuk menunjang operasional kapal. Perawatan dan perbaikan terhadap permesinan perlu dilakukan untuk menghindari kerusakan yang lebih fatal dengan melaksanakan PMS secara terjadwal. 
Institution Info

Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang