DETAIL DOCUMENT
PROSEDUR SUPPLY BUNKER LSFO MELALUI SISTEM SHIP TO SHIP DI PERTAMINA REFINERY UNIT IV CILACAP
Total View This Week0
Institusion
Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang
Author
PRADANA, BINTANG YULIO
Subject
KALK 
Datestamp
2022-09-29 04:20:13 
Abstract :
ABSTRAK Bintang Yulio Pradana, NIT: 551811337009 K, 2022?Prosedur Supply Bunker Melalui Sistem Ship to Ship di Pertamina Refinery Unit IV Cilacap? ,Program Diploma IV, Program Studi Tata Laksana Angkutan Laut dan Kepelabuhan, Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang, Pembimbing I : Dr. Andi Prasetiawan, S.Si.T., M.M., Pembimbing II: Purwantono, S.Psi., M.Pd. Supply bunker merupakan suatu prosedur penyaluran bahan bakar diatas kapal yang berdasarkan permintaan kebutuhan bunker kapal milik ataupun charter dari nakhoda kapal yang melalui Marine Region di PT. PERTAMINA (Persero), diantaranya untuk kapal Tanker, Tug Boat, Mooring Boat, RIB, dan kapal-kapal ringan di Terminal Khusus. Dari berbagai jenis bunker,bunker yang tersedia dan digunakan di PTK Cilacap ialah MFO dan LSFO. Pelayananbunker LSFO di Cilacap merupakan realisasi dari komitmen PIS untuk turut berpartisipasi dalam upaya mengurangi polusi yang timbul dari penggunaan bahan bakar kapal. Pelayanan bunkering perdana berhasil memasok 400 kl dari floating storage MT. Pelita ke kapal MT. Artemis melalui transportir bunker MT. Anugerah dewi 02. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor apa saja yang menyebabkan proses pelaksanaan supply bunker terhambat, kemudian upaya apa saja yang dilakukan pihak PT. Pertamina RU Iv Cilacap, bila supply bunker LSFO mengalami kendala serta bagaimana prosedur supply bunker LSFO di TUKS Pertamina RU IV Cilacap. Penulis menggunakan metode deskripsi kualitatif dengan cara melakukan observasi, wawancara terarah kepada informan yang berkompeten dibidangnya, serta mencantumkan analisis SWOT dengan metode ini. Penulis dapat mengaitkan hasil dari data penelitian dan teori-teori yang ada sehingga Penulis dapat menghasilkan jawaban penelitian.Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bila kendala adanya keterlambatan terjadi karena bertabrakannya jadwal bunker antar kapal, pihak Pertamina, agent hingga pilot station, approval bunker dari Pertamina terhambat, serta cuaca ekstrem. Disisi lain kapal transportir mengalami trouble. Dengan kendala-kendala tersebut, maka muncul upaya untuk mengatasi kendala-kendala tersebut seperti, melakukan evaluasi atau meeting kecil antar jajaran manager guna tolak ukur pihak Pertamina selama prosedur atau proses bunker dan seringnya melakukan perawatan secara berkala terhadap kapal transportir agar selalu dalam keadaan siap pakai. 
Institution Info

Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang