DETAIL DOCUMENT
KERUSAKAN FUEL INJECTION VALVE CYLINDER NO. 6 (ENAM) YANG MENYEBABKAN DETONASI PADA MESIN INDUK DI MV. KARTINI SAMUDRA
Total View This Week0
Institusion
Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang
Author
IRFAN, NAIM RAMADHAN
Subject
Skripsi 
Datestamp
2023-09-18 07:45:33 
Abstract :
ABSTRAK Ramadhan, Irfan Naim. 2023, 551811226685 T ?Kerusakan Fuel Injection valve Cylinder No. 6 (Enam) yang Menyebabkan Detonasi Pada Mesin Induk di MV. Kartini Samudera?. Skripsi. Program Diploma IV. Program Studi Teknika. Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang, Pembimbing I: Dr. Andy Wahyu Hermanto, MT., Pembimbing II: Mohammad Sapta Heriyawan, S.Kom., M.Si. Mesin diesel merupakan mesin penggerak utama sebagai penunjang lancarnya operasional kapal, yang sangat ditentukan oleh kinerja yang optimal. Komponen utama pada mesin diesel yaitu injector, pada mesin diesel injector berfungsi sebagai penghantar bahan bakar mesin diesel dari pompa injeksi. Untuk menjaga kinerja injector tetap maksimal dibutuhkan perawatan yang rutin dan maksimal. Karena ketika perawatan yang dilakukan kurang sesuai hingga menyebabkan adanya tetesan bahan bakar atau kebocoran pada akhir proses penyemprotan injector akan mengakibatkan pengabutan yang tidak sempurna. Dalam hal ini peneliti menemukan permasalahan pada area scaving dimana silinder nomor 6 mencapai temperatur 97 ?C dan terdengar suara dentuman beberapa kali. Tujuan dari penulisan ini untuk mengetahui faktor penyebab dan upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kerusakan fuel injection cylinder nomor 6 yang dapat menyebabkan detonasi pada mesin induk. Metode penelitian yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan penggabungan metode analisis data SHEL dengan diagram Fishbone untuk mengidentifikasi rumusan masalah yang akan diteliti. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, faktor terjadinya detonasi adalah tidak terlaksananya PMS (Plan Maintenance System), kebocoran nozzle fuel injection, rack bahan bakar tidak optimal, suhu bahan bakar yang tidak sesuai, padatnya jadwal operasional kapal, kurangnya komunikasi antar crew kapal, dan kurangnya jumlah orang atau crew yang merawat. Upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi yaitu pelaksanaan PMS sesuai jadwal yang ditentukan, mengganti nozzle fuel injection, melakukan overhaul pada rack, menaikkan suhu heater pada bahan bakar, melakukan perawatan saat sandar atau ketika mesin mati, meningkatkan komunikasi antar crew, dan menambah jumlah crew saat perawatan atau overhaul. 
Institution Info

Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang