Abstract :
Desa Taro sebagai desa wisata budaya berkelanjutan karena desa ini memiliki potensi budaya yang luar biasa dan kualitas budaya yang luar biasa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari strategi dan model pengembangan Desa Taro sebagai desa wisata budaya berkelanjutan. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, diskusi fokus grup, dan dokumentasi kuesioner. Beberapa metode analisis campuran yang digunakan termasuk Summary of Internal Factor
Analysis (IFAS), Summary of External Factor Analysis (EFAS), Matriks InternalExternal(IE), Analisis SWOT, dan Analisis Matriks Perencanaan Strategis Kuantitatif (QSPM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor internal dan
eksternal telah memengaruhi perkembangan Desa Taro menjadi desa wisata budaya yang berkelanjutan. Saat ini, Desa Taro berada di tahap pengembangan produk dan penetrasi pasar, dan faktor internal dan eksternal memengaruhi proses ini.
Didasarkan pada hasil analisis quantitative strategic planning matrix (QSPM) dengan attractiveness score (TAS) tertinggi, yaitu: membuat narasi sejarah Desa Taro dengan kedatangan Rsi Markandya yang ceritanya masih terjaga sampai
sekarang, pengelolaan daya tarik wisata dengan baik, mengidentifikasi potensi budaya Desa Taro, menggali keunikan potensi budaya yang masih alami, membuat event dari kegiatan keagamaan yang terselenggarakan setiap enam bulan sekali,
Dalam tren wisata modern, hal yang paling penting adalah mencari tempat yang jauh dari keramaian, menggunakan teknologi canggih, membuat paket wisata, meningkatkan sumber daya manusia pariwisata, dan melibatkan generasi muda
dalam kegiatan budaya. Model pengembangan Desa Taro sebagai desa wisata budaya berkelanjutan dengan adanya dukungan dan implementasi unsur pentahelix secara berkala terhadap kemajuan pengembangan desa Taro sebagai wisata budaya
secara optimal, menjaga keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan, serta memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan.