DETAIL DOCUMENT
Pengaruh Pemasangan Sabut Kelapa Sebagai Desikan Alamiah Terhadap Kelembaban Relatif Ruang Pengering Kunyit
Total View This Week0
Institusion
Politeknik Negeri Bali
Author
Apriawan, I Ketut Ditya
Subject
Teknik Refrigerasi 
Datestamp
2024-09-06 11:14:14 
Abstract :
Sabut kelapa memiliki potensi besar dalam berbagai proses pengeringan, memberikan solusi yang ramah lingkungan dan ekonomis. Sabut kelapa, yang merupakan bagian kedua dari buah kelapa setelah kulit luar, terbuat dari serat dan memiliki berbagai aplikasi. Penggunaan sabut kelapa sebagai desikan dalam pengeringan kunyit menggunakan mesin pengering heat pump dipilih karena kemampuannya menyerap air sampai 8-9 kali dari massanya sendiri. Dengan daya serap air yang tinggi, sabut kelapa mampu menyerap air di sekitarnya, sehingga efektif meningkatkan efisiensi proses pengurangan uap air. Metode yang diterapkan dalam penelitian ini yakni metode eksperimen, dengan membandingkan pengeringan kunyit tanpa desikan dan pengeringan menggunakan desikan sabut kelapa. Dalam eksperimen ini, kunyit dicuci dan diiris setebal 1-2 mm. Sebanyak 2100 gram kunyit yang telah diiris dibagi ke dalam 6 rak, masing-masing berisi 350 gram. Kunyit kemudian disusun di atas rak dan dikeringkan pada suhu 46-48°C selama 5 jam, baik dengan maupun tanpa menggunakan desikan sabut kelapa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan sabut kelapa mengurangi kelembaban relatif dari 80-90% menjadi 70-80%, serta secara signifikan menurunkan massa akhir kunyit menjadi 450 gram dengan desikan dibandingkan dengan 612 gram tanpa desikan. Penggunaan sabut kelapa juga meningkatkan laju pengeringan kunyit dari 4,96 gram per menit menjadi 5,5 gram per menit, menunjukkan efisiensi yang lebih baik dalam proses pengeringan. Persentase kadar air pada kunyit yang dikeringkan dengan desikan adalah 4,76%, sedangkan tanpa desikan adalah 14,11%. Sabut kelapa sebagai desikan alami terbukti efektif meningkatkan efisiensi pengeringan dan kualitas akhir kunyit, serta mengurangi risiko pembusukan dan pertumbuhan mikroba. 
Institution Info

Politeknik Negeri Bali