DETAIL DOCUMENT
Human Movement Recognition Berbasis IoT
Total View This Week0
Institusion
Politeknik Negeri Bali
Author
Nugraha, Ida Bagus Made Harisanjaya Adi
Putra, I Gusti Putu Mastawan Eka
Sapteka, Anak Agung Ngurah Gde
Subject
Teknik Elektro 
Datestamp
2022-09-28 04:55:20 
Abstract :
Setiap tahunnya ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat pesat. Manusia dapat menciptakan sensor-sensor yang cangih, salah satunya adalah sensor gyro. Dengan memanfaatkan sensor gyro, manusia dapat menciptakan berbagai inofasi baru dibidang teknologi seperti, Human Movement Recognition (HMR). HMR memiliki arti pengenalan gerakan manusia. Teknologi pengenalan gerakan manusia telah menjadi arah penelitian baru dibidang Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. HMR dapat digunakan untuk memonitoring lansia dan memberikan notifikasi pada saat lansia terjatuh. Suatu kejadian yang mendadak, tidak disengaja, dan tidak diharapkan yang menyebabkan lansia berada pada level yang lebih rendah atau di tanah merupakan definisi dari terjatuh. Sistem juga akan mengimplementasikan Internet of things (IoT). Dengan mengimplementasikan IoT diharapkan memonitoring pergerakan lansia dapat secara real-time serta dapat dipantau dari jarak jauh. Selain IoT sistem juga akan terintegrasi dengan teknologi Long Range (LoRa) sehingga sistem dapat beroprasi di area yang sulit sinyal seluler dan jaringan internet. Penelitian ini dilakukan pada area rumah, seluas 23 are di Desa Kerambitan, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Penelitian ini juga membuat 2 buah perangkat yaitu perangkat client dan master, perangkat client digunakan sebagai pemindai gerakan lansia dengan memanfaatkan sensor gyro MPU6050 sedangkat perangkat master sebagai pengirim data dari perangkat client ke Firebase sebagai database. Gerakan duduk memiliki nilai terendah 0,99 dan tertinggi 1,02, gerakan berdiri memiliki nilai terendah 0,26 dan tertinggi 0,68, gerakan tidur memiliki nilai terendah 0,99 dan tertinggi 1,02. Sedangkan pembacaan sensor dua gerakan duduk memiliki nilai terendah 2,02 dan tertinggi 2,02, gerakan berdiri memiliki nilai terendah 0,86 dan tertinggi 1,32, gerakan tidur memiliki nilai terendah 0,73 dan tertinggi 1,57. Gerakan terjatuh pada aplikasi android diseting dengan nilai lebih dari 200 pada masing-masing sensor. Penelitian ini juga menguji pengaruh jumlah sensor terhadap kemampuan memindai gerakan lansia, untuk gerakan berdiri dan duduk memiliki perbandingan keberhaasilan yang sangat signifikan berbeda. Sistem juga telah berhasil mengimplementasikan IoT dengan delay (s) yang tidak lebih dari 5 detik 
Institution Info

Politeknik Negeri Bali