Institusion
Poltekkes Kemenkes Bengkulu
Author
AGUSTIANA, SYIFA
Fitriany, Evi
Baruara, Guntur
Riyadi, Agung
Okfrianti, Yenni
Subject
R Medicine (General)
Datestamp
2024-12-09 08:32:05
Abstract :
Latar Belakang: Infeksi merupakan salah satu penyebab utama penyakit di dunia terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Salah satu bakteri yang menyebabkan terjadinya infeksi pada manusia adalah Staphylococcus aureus. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini biasanya diobati dengan pemberian antibiotik. Penggunaan antibiotik yang berlebihan dan pemberian antibiotik dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan terjadinya resistensi antibiotik. Resistensi antibiotik menimbulkan beberapa konsekuensi yang fatal seperti perpanjangan penyakit (prolonged illness) dan meningkatkan risiko yang besar terhadap kematian (greater risk of death). Berbagai strategi disusun untuk mengatasi masalah resistensi antibiotik diantaranya mencari agen antibakteri baru dengan menggunakan bahan alami dari tumbuhan salah satunya menggunakan rebung bambu kuning (Bambusa vulgaris schred) yang kerap dikonsumsi oleh masyrakat suku rejang. Tumbuhan ini mengandung zat antibakteri yaitu flavanoid sehingga bisa dijadikan solusi menjadi agen antibakteribaru untuk mencegah resistensi antibiotik.
Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui daya hambat rebung bambu kuning (Bambusa vulgaris schred) terhadap bakteri Staphycoccus aureus.
Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan tiga perlakuan. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak lima kali dengan variasi kosentrasi 100%, 75%, dan 50% dengan tetrasiklin sebagai kontrol positif serta aquades sebagai kontrol negatif. Analisa data dengan menggunakan analisa univariat.
Hasil: Rata-rata diameter zona hambat pada konsentrasi 100% sebesar 19 mm, konsentrasi 75% sebesar 12,4 mm, konsentrasi 50% sebesar 4,6 mm. Hasilnya diketahui bahwa ekstrak rebung bamu kuning memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus terlihat dengan adanya zona bening yang dibentuk disekitar cakram.
Kesimpulan: Semakin besar konsentrasi yang digunakan maka semakin besar daya hambat ekstrak rebung bambu kuning sebagai antibakteri Staphylococcus aureus, dengan konsentrasi paling efektif yaitu 100%.