Abstract :
Hipertensi dapat diakibat penyebab sekunder yaitu peggunaan alat
kontrasepsi hormonal. Ini dikarenakan kontrasepsi hormonal mengandung hormon
estrogen dan progesteron sehingga terjadi ketidakseimbangan hormon didalam
tubuh yang berujung pada hipertensi. Di Indonesia, penggunaan kontrasepsi yang
paling banyak adalah kontrasepsi hormonal (85,7%) meliputi pengguna suntik
139.342 orang (56,8%), pil 64.569 orang (26,3%), dan implan 14.901 orang (6%).
Diketahui sebanyak 216 dari 766 (28,19%) WUS pengguna kontrasepsi hormonal
di wilayah kerja Puskesmas Telaga Dewa menderita hipertensi.
Desain penelitian cross sectional dengan populasi seluruh wanita usia subur
pengguna kontrasepsi hormonal di wilayah kerja Puskesmas Telaga Dewa Kota
Bengkulu berjumlah 4.726. Sampel berjumlah 369 yang terdiri dari 300 pengguna
suntik, 39 pengguna pil, dan 30 pengguna implan. Data nama, tekanan darah, umur
dan jenis kontrasepsi hormonal diperoleh dengan cara sekunder bersumber dari
buku register bidan. Sedangkan data lama penggunaan, jumlah anak, pekerjaan, dan
pendidikan diperoleh dengan cara primer yaitu menyebar lembar kuesioner kepada
responden. Selanjutnya dilakukan uji kai kuadrat.
Didapatkan bahwa lama penggunaan kontrasepsi hormonal nilai p 0,000 <
? (0,05) berarti ada hubungan yang signifikan lama penggunaan dengan kejadian
hipertensi. Nilai rasio pengguna kontrasepsi hormonal > 5 tahun sebesar 2,685.
Namun jenis kontrasepsi hormonal didapatkan nilai p 0,223 > ? (0,05) berarti tidak
ada hubungan jenis kontrasepsi hormonal yang digunakan dengan kejadian
hipertensi.
Diharapkan pihak Praktik Bidan Mandiri di wilayah kerja Puskesmas
Telaga Dewa untuk senantiasa mengontrol tekanan darah pengguna kontrasepsi
hormonal dan memberikan edukasi bahwa pengguna kontrasepsi hormonal > 5
tahun untuk mengganti metode kontrasepsi non hormonal sehingga dapat terhindar
dari kejadian hipertensi.