Abstract :
ABSTRAK
Disertasi ini diarahkan untuk menemukan formula paradigma ilmu yang
dapat dijadikan dasar teoritik dan praksis pada UIN Sulthan Thaha Saifuddin
(STS) Jambi yang kini tengah mencari model paradigma ilmunya. Dalam upaya
tersebut penulis menggunakan teori tentang: paradigma sebagai basis dalam
memahami paradigma ilmu; paradigma ilmu Islam dan Barat yang dapat
memberikan pengetahuan tentang asal karakteristik tradisi ilmu Islam dan Barat;
varian paradigma ilmu integrative yang akan mengulas beberapa bentuk
paradigma integratif; serta berbagai kondisi dan tantangan lokal yang dapat
dihadapi dalam upaya formulasi paradigma ilmu Islam integratif.
Jenis penelitian kualitatif-eksploratif kemudian digunakan dengan tujuan
untuk menggali dan menemukan suatu pengetahuan baru yang sebelumnya belum
ada, untuk selanjutnya diarahkan pada konteks pendekatan studi kasus (case
study) guna memberikan jaminan terlaksananya penelitian sesuai dengan objek
penelitian yang akan diteliti, yaitu pada UIN STS Jambi.
Penulis menemukan bahwa formulasi paradigma ilmu yang tepat
dikembangkan sebagai basis ilmu pada UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
adalah paradigma ilmu Islam integratif, yang menyediakan pandangan ilmu yang
tauhid berbasis pada Islamic entrepreneurship. Formulasi paradigma ilmu Islam
integratif ini dibangun dengan mengintegrasikan tiga tradisi ilmu, yaitu tradisi
ilmu Islam, tradisi ilmu Barat modern, dan tradisi atau kearifan lokal masyarakat
Islam Melayu Jambi, yang pada tahap selanjutnya didorong untuk memenuhi
tantangan kontekstual yang bersifat lokal ataupun global. Hasilnya secara teoritik
adalah paradigma ilmu yang menempatkan berbagai tradisi dalam level yang sama
tinggi dan saling memperkaya. Pandangan terbuka ini dimetaforakan dalam
bentuk ?Sungai Ilmu? yang di dalamnya mengandung unsur: air hujan sebagai
tradisi Islam yang merupakan sumber ilmu transendental, aliran anak sungai
sebagai tradisi Barat modern, sumber mata air dasar sungai sebagai tradisi atau
kearifan lokal, dasar sungai sebagai konteks atau kebutuhan lokal masyarakat
Jambi, serta gelombang dan riak sungai sebagai konteks atau kebutuhan global.
Pada level praksis paradigma ilmu Islam integratif diupayakan untuk
mewarnai iklim dan budaya serta tradisi akademik serta menjadi landasan nilai
bagi pengembangan kurikulum dan kelembagaan UIN STS Jambi. Di mana dalam
upaya penerapannya UIN STS Jambi masih menghadapi beberapa hambatan:
hambatan ilmiah, hambatan sosio-kultural dan hambatan psiko-spiritual.
Akhirnya penulis dapat menyarankan agar semua sivitas akademika pada
UIN STS dapat mengembangkan semangat ilmu yang tinggi untuk
mengembangkan budaya keterbukaan yang menjadi syarat bagi tumbuhnya
paradigma ilmu Islam integratif. Selain itu perlu disadari bahwa upaya
pengembangan paradigma ilmu Islam integratif ini merupakan kerja filosofis,
sehingga dalam pelaksanaannya membutuhkan kejelian dan kekuatan pemikiran
serta yang terpenting butuh kerjasama berbagai ahli yang dianggap dapat
membantu perumusan paradigma ilmu yang tepat untuk proyeksi UIN STS Jambi
yang inklusif dan visioner.