Abstract :
ABSTRAK
Kajian mengenai Akulturasi Islam dengan Budaya Melayu
dalam konteks kekinian dikaitkan dengan adat Perkawinan Melayu
Jambi masih dianggap relevan dan menarik, utamanya di Jambi sebagai
salah satu pusat peradaban Melayu dan penyebaran Islamnya begitu
cepat dan damai. Sejak awal Jambi berhasil melakukan akulturasi Islam
dengan budaya Melayu terutama dalam konteks adat perkawinan
Melayu melalui tiga aktor penting didalamnya yaitu penguasa
(pemerintah), tokoh agama (ulama), dan Pemangku adat yang dikenal
dengan?tali tigo sepilin atau tungku tigo sejenang?. Dengan
menggunakan metode deskriptif-kualitatif, penulis menelaah tiga hal:
1)Adat Perkawinan Dalam perspektif Budaya Melayu Jambi, 2)Proses
Akulturasi Islam Dalam Adat Perkawinan Melalayu Jambi, dan 3)
Posisi Islam Dalam Konstruksi Budaya Melayu Jambi. Melalui
pendekatan Antropologi, penulis mencermati tradisi yang ada dalam
upacara adat perkawinan Melayu.
Temuan penelitian: Pertama, Perkawinan adat Melayu Jambi,
merupakan sebuah karya budaya dari hasil akulturasi antara Islam
dengan adat dan tradisi. Kalau Islam menekankan dari aspek akad
nikah, dan adat dari aspek prosudural, maka tradisi menekankan pada
aspek perlengkapan yang diperlukan. Maka masyarakat Melayu Jambi
memandang sebuah perkawinan adalah sesuatu yang sakral (suci),
karena terjadinya ikatan dan perjanjian (akad) antara kedua belah pihak
(laki-laki dan Perempuan) baik secara lahir maupun bathin. Serta harus
memenuhi ketentuan adat ( adat diisi lembago dituang), ketentuan
agama (syarak), dan ketentuan peraturan perundang-undangan
(Undang-undang Perkawinan). Maka dalam adat Jambi disebutkan;
?Kawin beradat, sarak (perceraian) berhukum, adat datang lembago
nunggu, adat naik lembago turun?.
Kedua, Proses akulturasi Islam dengan Adat perkawinan
Melayu Jambi berlangsung damai, karena pertemuan Islam dengan
budaya yang terjadi adalah perpaduan yang harmonis. Sehingga Islam
dijadikan sebagai bagian dari identitas sosial untuk memperkuat
identitas yang sudah ada sebelumnya. Bagi masyarakat Melayu Jambi,
Islam bukan hanya sebagai sebuah agama, tetapi Islam telah masuk ke
dalam kehidupannya.
Ketiga, Islam mempunyai posisi penting dalam kehidupan
masyarakat Melayu Jambi, sedangkan adat merupakan tradisi warisan
nenek moyang. Setelah terjadi akulturasi, maka keduanya dipadukan
dan saling melengkapi yang harus dipatuhi sebagai wujud menjunjung
tinggi idealisme keberagamaan dan keberadatan mereka. Masyarakat
Melayu Jambi sejak Islam datang sepakat Islam sebagai panduan hidup
xii
(way of life), sesuai falsafah ?adat bersendi syarak, syarak bersendi
Kitabulllah; artinya ketentuan syarak direalisasikan oleh adat sehingga
keduanya sejalan dan tetap harmonis.
Implikasinya, Pernikahan dalam tradisi Melayu Jambi, adalah
perpaduan antara kuatnya adat dan juga pelaksanaan ajaran Islam. Islam
yang datang setelah terbangunnya peradaban Mealyu Jambi melalui
rentang wakatu yang panjang tidak sertamerta mengubah tradisi yang
sudah ada.