Abstract :
Pada pemilihan Presiden Indonesia tahun 2019 ini terjadi koalisi antara GNPF?MUI/Ulama dengan salah satu Paslon Presiden-Wakil Presiden yaitu Prabowo Subianto
dan Sandiaga Uno. Koalisi ini bukan merupakan hal yang direncanakan demi keuntungan
suatu kelompok semata. Hal ini terjadi karena banyaknya serangan dan tuduhan yang
menimpa Ulama-Ulama dalam GNPF-MUI/Ulama sehingga mereka bertransformasi
menjadi gerakan untuk mengganti Presiden agar ketidakadilan tidak terus terjadi.
Dukungan terhadap Prabowo merupakan sarana dan peluang untuk menciptakan hal
tersebut, berhubung hanya Prabowo Subianto yang menjadi lawan dari petahana Joko
Widodo. Dukungan yang murni dan bertujuan untuk menciptakan keadilan ini tercermin
dalam 17 pakta integritas yang diajukan oleh GNPF-MUI/Ulama dan ditanda tangani oleh
Prabowo Subianto. Permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah mengenai
bagaimana proses dari terbentuknya koalisi antara GNPF-MUI/Ulama dengan Prabowo
Subianto dan bagaimana dampak koalisi ini terhadap koalisi Joko Widodo dengan
Nadhlatul Ulama (NU). Teori yang digunakan untuk penelitian ini adalah teori jenis
Koalisi dari William B. Stevenson. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan
jenisnya sebagai penelitian lapangan. Data dalam penelitian ini diperoleh dari wawancara
dan dokumentasi. Data dianalisis dengan menggunakan pengumpulan data, reduksi data,
penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa
memang koalisi antara GNPF Ulama dan Prabowo Subianto memang benar sebuah
koalisi politik karena memiliki tujuan bersama dengan latar belakang histori yang cukup
lama. Koalisi ini juga menyebabkan terjadinya perpecahan di dalam internal NU itu
sendiri. Karena mayoritas Habaib lebih dominan mendukung pasangan Prabowo-Sandi
meskipun NU dengan Habaib itu memiliki kedekatan spiritual yang luar biasa.