Abstract :
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan dan menjelaskan
panggilan Romo Yunus dalam novel Pohon-Pohon Sesawi karya Y.
Mangunwijaya, dan (2) mendeskripsikan dan menjelaskan relevansi panggilan
Romo Yunus dalam novel Pohon-Pohon Sesawi karya Y. B. Mangunwijaya
terhadap pengembangan panggilan imam.
Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif.
Objek yang diteliti adalah unsur panggilan Romo Yunus dalam novel PohonPohon
Sesawi
karya
Y.
B.
Mangunwijaya.
Wujud
data
dalam
penelitian
ini
berupa
kata,
frase,
kalimat,
yang
terdapat
dalam
novel
Pohon-Pohon
Sesawi.
Sumber
data
utama penelitian ini adalah novel Pohon-Pohon Sesawi karya Y. B.
Manginwijaya. Sumber data sekunder diperoleh dari kajian terhadap penelitian
terdahulu, dan artikel-artikel dalam buku, majalah, jurnal, surat kabar yang
berbicara tentang teologi dan praksis imamat; analisis aspek tokoh dalam berbagai
karya sastra; situasi sosial, politik, ekonomi Indonesia hingga tahun 1999 yang
merupakan tahun kematian Y. B. Mangunwijaya dan tahun terbitan pertama novel
Pohon-Pohon Sesawi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah analisis
isi terhadap semua sumber data. Langkah yang digunakan dalam teknik analisis isi
ditempuh dengan pertama membaca berulang-ulang novel Pohon-Pohon Sesawi.
Kedua, mengumpulkan dan mempelajari teori-teori yang relevan dengan
penelitian. Ketiga, mencatat, mengurutkan dan menganalisis semua data, kutipan
penting sesuai dengan permasalahan. Data dari novel Pohon-Pohon Sesawi
dikomparasikan dengan data-data sekunder yang berkaitan dengan tema kajian.
Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan novel “Pohon-Pohon Sesawiâ€
menampilkan tokoh utama Romo Yunus. Dalam menjalankan tugasnya sebagai
gembala umat, Romo Yunus mengembangkan dan menghidupi beberapa
keutamaan, yang sangat penting dalam pengembangan hidup imam. Pertama,
hidup dalam cinta kasih. Kedua, kekudusan dengan cara setia, penuh tanggung
jawab, sesuai tuntutan Gereja dalam melayani sakramen-sakramen, dan
mewartakan dan melayani Sabda Allah dan melakukan kegiatan rohani pribadi.
Ketiga, kepemimpinan yang unggul dengan cara yang komunikatif, inspiratif,
motivatif dan dengan mengandalkan cinta kasih, profesionalitas, integritas, saling
mempercayai, belajar terus-menerus, bersandar pada firman Allah dan terbuka
pada Roh. Keempat, imam manajer dengan sistem pengelolaan supportif-efektif,
sikap mendengarkan, komunikasi secara terbuka dan jujur, mempercayakan dan
mendelegasikan wewenang dan bekerja sama dengan baik dengan perangkat
pastoral paroki, mampu mengorganisir organisasi DPP dan kelompok kategorial
dalam paroki, membuat, mengkoordinir dan melaksanakan program-program yang
dibuat bersama. Kelima, intimasi imamat dengan persaudaraan yang kuat,
mendalam dan terbuka, saling mendengarkan dan meneguhkan satu sama lain,
saling mendoakan. Keenam, promotor panggilan yang baik dengan bersikap
rendah hati, ketekunan bekerja, saling mengasihi dan kerja sama persaudaraan
dalam pelayanan pastoral.
Beberapa keutamaan di atas dapat mengatasi problematika imamat.
Intimasi imamat dapat mengatasi kekerasan seksual. Praktik kekudusan yaitu
setia, penuh tanggung jawab, sesuai tuntutan Gereja dalam melayani sakramen sakramen,
dan mewartakan dan melayani Sabda Allah, serta melakukan kegiatan
rohani pribadi dapat mengatasi kelelahan-depresi dan kekeringan spiritual.
Kepemimpinan unggul mengatasi kepemimpinan single fighter.