Institusion
INSTITUT FILSAFAT DAN TEKNOLOGI KREATIF LEDALERO
Author
MUDA, Kristianus Lambertus Lambera
Subject
BL Religion
Datestamp
2021-09-01 02:57:23
Abstract :
Salah satu religiositas masyarakat Lewoawan yang ditemukan dalam khazanah
budaya adalah ritus pau bau. Ritus pau bau mengungkapkan kepercayaan akan Wujud
Tertinggi dan penghormatan terhadap roh leluhur. Teologi Katolik memungkinkan refleksi
teologis atas praktik penghormatan tersebut, karena teologi Katolik mengenal praktik dan
mempunyai pendasaran teologis bagi penghormatan terhadap nenek moyang dalam iman,
yakni penghormatan terhadap orang kudus. Roh leluhur atau orang-orang yang telah
meninggal diyakini telah ada dan hidup bersama dengan Allah. Mereka dapat menjadi
perantara bagi orang-orang yang masih hidup untuk mengkomunikasikan permohonan dan
harapan kepada Allah.
Dalam kenyataannya, pelaksanaan ritus pau bau dalam masyarakat Lewoawan
dijalankan sebagai formalitas belaka. Tidak ada pemahaman yang mendalam tentang nilai
atau makna di balik pelaksanaan ritus ini. Menyadari realitas ini, penulis, melalui tulisan ini
berusaha mengkaji nilai dan makna teologis yang terkandung di balik pelaksanaan ritus pau
bau. Dengan membuat perbandingan antara unsur-unsur penting dalam teologi Kristen dan
unsur-unsur penting dalam pelaksanaan ritus pau bau, penulis menemukan beberapa poin
penting: pertama, baik teologi Kristen maupun ritus pau bau memandang Allah sebagai
Wujud Tertinggi atau yang Transenden serta sebagai Raja Agung dan Tak Terbatas.
Kendatipun disebut dengan nama yang berbeda, Allah dan Lera Wulan Tana Ekan memiliki
hakikat yang sama yakni sebagai Pencipta alam semesta beserta segala isinya termasuk
manusia. Kedua, teologi Kristen maupun ritus pau bau juga memandang dan mengakui
Allah dengan sejumlah sifat dan peran-Nya yakni sebagai Pencipta, Maha Baik, penuh belas
kasih, Maha Rahim, Maha Pengampun, penyembuh, harapan, dan pembela orang-orang kecil
dan tertindas, serta sebagai pelindung dan sumber keselamatan bagi manusia dan seluruh
ciptaan lainnya. Ketiga, semua peristiwa yang dialami masyarakat Lewoawan seperti
musibah atau bencana, serta amanat nenek moyang yang disampaikan dengan perantaraan
dukun bertalian dengan pandangan teologi Kristen tentang wahyu dalam Perjanjian Lama
(peristiwa malapetaka yang dialami bangsa Israel dan kehadiran para nabi). Semua peristiwa,
amanat, dan kehadiran tokoh-tokoh ini dilihat sebagai simbol yang dipakai Allah untuk
mengkomunikasikan diri-Nya dan menawarkan keselamatan kepada manusia. Selain itu,
kehadiran dan peran tokoh-tokoh ini juga dipandang sebagai simbol wahyu atau sabda Allah
yang dalam Perjanjian Baru diperankan oleh Yesus sendiri. Keempat, baik teologi Kristen
maupun ritus pau bau memandang manusia sebagai ciptaan atau gambar Allah. Manusia
menyadari dirinya sebagai makhluk yang terbatas di hadapan Allah Pencipta yang Tak
Terbatas. Teologi Kristen dan ritus pau bau juga memandang manusia sebagai makhluk
sosial yang tidak dapat hidup sendirian, namun akan selalu ada bersama dan membutuhkan
yang lain. Dalam kebersamaan itu, manusia juga dituntut untuk selalu peka dan
bertanggungjawab terhadap kebutuhan sesama.
Kesadaran akan nilai dan makna teologis yang terkandung dalam ritus pau bau ini
dapat menjadi bekal bagi Gereja, dalam hal ini para agen pastoral, untuk menjalankan tugas
perutusannya. Dengan menggunakan pendekatan kontekstualisasi, dialog, dan kesaksian
hidup serta inkulturasi, Gereja dapat menjalankan misinya untuk mengembangkan iman umat
dan membantu masyarakat untuk semakin berakar dalam kebudayaannya sendiri.