Institusion
INSTITUT FILSAFAT DAN TEKNOLOGI KREATIF LEDALERO
Author
SIKU, Fransiskus Hardiyoman
Subject
BL Religion
Datestamp
2021-06-16 02:23:23
Abstract :
Penelitian ini bertujuan untuk (1) Menyadarkan masyarakat Hubin akan pentingnya makna Watu
Mahe dalam upacara Tung Piong sebagai suatu sarana pelestarian budaya daerah di kabupaten
Sikka. (2) Menjelaskan perbandingan antara Watu Mahe dalam upacara Tung Piong dan Altar
dalam Perayaan Ekaristi. (3) Menjelaskan Altar dalam Perayaan Ekaristi Gereja Katolik.
Penulis menggunakan metode studi kepustakaan dan wawancara. Sumber data utama dalam
penelitian ini adalah buku Pesona Sikka: Deskripsi Sepuluh Objek Wisata Budaya. Dalam
menjalankan penelitian ini, teknik yang digunakan yaitu Pertama, menelaah beberapa sumber
kepustakaan yang membantu penulis dalam menganalisa topik seputar Perbandingan antara Watu
Mahe dalam upacara Tung Piong dan Altar dalam perayaan ekaristi gereja Katolik. Kedua,
melakukan wawancara dengan semua sumber yang telah dihubungi.
Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa Simbol Watu Mahe dalam upacara Tung Piong
merupakan bentuk pemujaan sekaligus penghormatan terhadap para leluhur sekaligus Wujud
Tertinggi yang dalam bahasa etnis sikka krowe disebut Ina Nian Tana Wawa, Ama Lero Wulan
Reta. Hal ini dapat dibuktikan melalui tradisi dan kepercayaan masyarakat Hubin dalam
menggelar upacara Tung Piong di Mahe Udek Rang atas kepercayaan masyarakat setempat akan
perlindungan dari marabahaya, wabah penyakit serta usaha dan kerja keras masyarakat dalam
memajukan masyarakat Hubin oleh para leluhur sekaligus wujud tertinggi yang di percaya.
Upacara Tung Piong berusaha mempertahankan eksistensinya dari segala kemajuan teknologi
sekaligus Agama yang dianut oleh masyarakat setempat sebagai sarana memperbaharui iman dan
kepercayaan akan Yesus Kristus sebagai Juruselamat umat manusia. Disatu pihak gambaran
mengenai Altar sebagai simbol penghayatan umat Kristiani yang merujuk pada kenyataan akan
wafat dan kebangkitan Yesus Kristus sebagai tanda penggenapan janji karya keselamatan Allah
telah tercapai. Dalam konteks agama katolik nilai-nilai baik yang tertanam dalam upacara Tung
Piong perlu dipakai oleh gereja katolik sebagai sarana dalam mengembangkan katekese umat
sekaligus menghayati Wujud Tertinggi sebagai pencipta dan penggerak seluruh tatanan
kehidupan manusia. Melalui nilai-nilai baik yang hadir dalam perayaan ekaristi gereja katolik
mampu menggerakan iman umat masyarakat Hubin dengan menjalankan tugas dan
tanggungjawabnya sebagai anggota gereja sekaligus menghayati makna dan arti terdalam dari
perayaan ekaristi. Karena itu, apresiasi terhadap tradisi lisan dalam lintas budaya dalam praktek
upacara Tung Piong mampu membuka wawasan berpikir sekaligus dapat melestarikan
kebudayaan daerah Sikka.