Abstract :
ABSTRAK
Indonesia adalah sebuah negara yang memiliki sumber daya alam yang berlimpah.
Disetiap daerah di Indonesia tersebar kekayaan alam sesuai karakter dan kondisi
geografis daerahnya masing-masing. Dimana keberagaman sumber daya alam di
Indonesia ini dapat menjadi modal integrasi dan kemajuan bangsa Indonesia. Salah
satu dari sumber kekayaan alam di Indonesia adalah sumber daya semen. dengan
pertumbuhan produksi semen yang terus menigkat tajam akhirnya pada tahun 2012
pemerintah melalui BUMN melakukan perubahan pada nama perusahaan PT Semen
Gresik menjadi PT Semen Indonesia. Namun, perjalanan indutri semen Indonesia
tidak selamnya berjalan mulus. Tercatat pada januari 2014 penjualan Semen Indonesia
mengalami penurunan sebesar 25% selain kerena buruknya cuaca, bencana alam juga
akibat persaingan dengan produk impor yang semakin ketat. Karena itu perlu adanya
langkah antisipasi awal untuk menilai tingkat kesehatan keuangan perusahaan sebelum
perusahaan mengalami kesulitan keuangan yang sebenarnya, salah satu suatu metode
yang mampu menilai tingkat kesehatan keuangan perusahaan adalah metode analisis
Altman Z-Score dan Springate S-Score yang telah dilengkapi dengan titik cut off,
metode analisis inilah yang penulis gunakan dalam menilai tingkat kesehatan
perusahaan manufaktur sub sektor semen yang terdaftar di Bursa Efek Indoneisa
Periode 2014-2016. Hasil analisis dari metode Z-Score dan S-Score, dari 4 perusahan
semen yang terdaftar di BEI selama tahun 2014-2016 yaitu Indocement Prakarsa Tbk,
Semen Batura (Persero) Tbk, Holcim Indonesia Tbk dan Semen Indonesia Tbk
menunjukkan bahwa hanya Holcim Indonesia Tbk yang dinilai dalam kesulitan
keuangan, karena memiliki nilai Z-Score dan S-Score di bawah titik cut off <1.88 dan
S<0,862 , Sedangkan Indocement Prakarsa Tbk, Semen Baturaja (Persero) Tbk dan
Semen Indonesia Tbk mampu mepertahankan nilai Z-Score dan S-Score diatas titik
cut off Z>2,99 dan S>1,062 yang dikategorikan sehat. Bagi perusahaan semen yang
terindikasi sehat, harus bisa mempertahankan atau bahkan meningkatkan prestasi yang
dicapai, sedangkan bagi perusahaan yang dinilai mengalami kesulitan keuangan, perlu
melakukan efisiensi biaya operasional semaksimal mungkin, agar perusahaan dapat
menghasilkan laba dan memperbaiki likuiditas perusahaan.