Abstract :
Adanya kenaikan Upah Minimum Regional (UMR) menjadi
Rp. 120.000 per bulan, sistem lembur overtime, masalah fasilitas indirect ekspor, serta munculnya negara Vietnam dan Bangladesh sebagai negara pesaing baru, membawa dampak khususnya bagi pabrikan sepatu di Indonesia yang memperkirakan ekspor sepatu tahun 1997 mengalami
penurnan. Situasi pasar ini menyebabkan persaingan semakin ketat dalam merebut pangsa pasar dari dalam negeri dan dari pesaing-pesaing luar negeri. Oleh karena itu industri sepatu lokal dituntut untuk memiliki keunggulan baik dari segi kualitas maupun harga yang bersaing.
PT "X" merupakan badan usaha yang bergerak dalam industri
sepatu. Dalam menghitung beban produksi untuk suatu produk dilakukan
secara tradisional yaitu dengan cara menjumlahkan semua beban bahan
baku, beban tenaga kerja langsung dan beban pabrikasi. Perhitungan seperti
ini adalah perhitungan yang sempit karena beban produksi sebenarnya
hanya merupakan sebagian dari beban-beban yang dikeluarkan untuk suatu
produk selama usia hidupnya.
Untuk hal itu maka sebaiknya PT "X' menjalankan penetapan beban
yang dilakukan berdasarkan life cycle costing, sehingga dapat memberikan
infomasi dan manfaat bagaimana keadaan produk nantinya jika produk
tersebut tidak diproduksi lagi. Disamping itu perlu dikembangksrn life cycle
planning karena dapat memberikan peluang besar untuk melakukan
penghematan beban (cost reduction). Informasi life cycle budgeted costs
sangat dibutuhkan badan usaha dalam mengestimasi harga jual produk
sehingga dapat ditetapkan harga jual yang sesuai dengan daur hidup produk.