Abstract :
Kepatuhan merupakan faktor penentu keberhasilan terapi. Sebagian besar
penderita diabetes melitus tipe 2 mengalami kesulitan terhadap aturan pakai obat
hipoglikemik oral (OHO} yang harus mereka konsumsi dan penderita sering lupa
mengkonsumsi OHO karena kesibukan bekerja, sehingga menyebabkan
ketidakpatuhan dalam mengkonsumsi OHO. Ketidakpatuhan tersebut mengakibatkan
kadar glukosa darah menjadi tidak terkendali sehingga dapat memicu
terjadinya komplikasi.
Layanan kefarmasian untuk mengingatkan penderita mengkonsumsi OHO
melalui Short Message Service (SMS} diduga sangat efektif karena SMS sudah
menjadi gaya hidup masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui pengaruh SMS terhadap penurunan tingkat ketidakpatuhan yang
disebabkan karena kesibukan bekerja pada penderita diabetes melitus tipe 2 dalam
mengkonsumsi obat hipoglikemik oral (OHO) dan pengaruh penurunan tingkat
ketidakpatuhan tersebut terhadap kadar glukosa darah penderita.
Sebagai sumber data adalah frekuensi pemberian OHO dalam satu hari,
kadar glukosa darah sewaktu, hasil wawancara dan hasil kuesioner. Sedangkan
sebagai parameter tingkat kepatuhan adalah jumlah OHO yang dikonsumsi pada
periode penelitian. Data diambil secara prospektif terhadap 30 penderita diabetes
melitus tipe 2 yang menjadi konsumen di Apotik Panti Waras, Purwokerto.
Dari hasil penelitian ini terlihat bahwa upaya mengingatkan penderita
dalam mengkonsumsi OHO melalui SMS berpengaruh secara bermakna terhadap
penurunan tingkat ketidakpatuhan yang disebabkan karena kesibukan bekerja bagi
penderita diabetes melitus tipe 2 dalam mengkonsumsi OHO. Pada periode I
(periode tanpa intervensi), penderita yang tidak patuh mengkonsumsi OHO
63,33%. Sedangkan pada periode II (periode dengan intervensi} penderita yang
tidak patuh mengkonsumsi OHO turun menjadi 6,67%. Penurunan tingkat
ketidakpatuhan dalam mengkonsumsi OHO juga berpengaruh secara bermakna
terhadap kadar glukosa darah penderita yang menjadi lebih terkendali· meskipun
terdapat 13,33% penderita yang kadar glukosa darahnya justru meningkat pada
periode II.