Abstract :
Adanya berbagai hambatan pada pasar dan produksi sepatu
olahraga selama tahun-tahun terakhir ini menyebabkan ekspor
cenderung menurun. Untuk mengatasi berbagai hal di atas
maka suatu perusahaan harus dapat melakukan berbagai
inovasi yang diperlukan agar ekspor sepatu olahraga dapat
meningkat kembali. Dalam hal ini perusahaan untuk dapat
melakukan inovasi perlu menerapkan sistem desentralisasi,
ini merupakan tuntutan bagi perusahaan yang sudah berkembang. Dalam hal ini PT SPORT juga telah menerapkan
sistem desentralisasi, dimana PT SPORT ini mempunyai dua divisi dan tiap-tiap divisi yang melakukan transfer barang
itu dinilai sebagai pusat laba. PT SPORT telah menerapkan suatu metode harga transfer yaitu full cost plus mark up dengan mark up sebesar 20%. Dengan menggunakan metode
tersebut laba yang diperoleh divisi lem sebesar Rp1.244.287.020,00 sedangkan bagi divisi sepatu sebesar Rpl5.864.345.176,00. Hal ini menghasilkan penilaian
kinerja bagi kedua divisi itu menjadi kurang akurat
karena harga transfer yang ditetapkan sebesar Rp 365.800,00
per kaleng lem berada jauh di bawah minimum price (haga yang
ditawarkan di pasar), dimana harga pasarnya sebesar Rp410.000,00 per kaleng. Maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk membahas penetapan harga transfer yang paling
sesuai dengan kondisi PT SPORT dengan cara memberikan analisis berbagai metode harga transfer. Setelah dilakukan analisis terhadap berbagai metode harga transfer maka dapat disimpulkan bahwa metode harga transfer yang paling sesuai
dengan kondisi PT SPORT adalah harga transfer yang diperoleh melalui negosiasi tahap yang kedua. Dimana dengan
menerapkan metode tersebut maka dapat diperoleh suatu harga
untuk produk lem yang ditransfer yaitu sebesar Rp407.725,00
per kaleng karena untuk transaksi internal divisi lem tidak
perlu menanggung ongkos angkut sehingga terjadi penghematan
sebesar Rp3500,00 per kaleng lem. Dimana penghematan yang terjadi harus dibagi secara rata sehingga tiap-tiap divisi merasa puas. Dengan menggunakan metode tersebut, laba yang
diperoleh divisi lem sebesar Rp1.842.430.995,00 dan divisi sepatu sebesar Rp15.268.152.391,00. Dengan menerapkan metode ini divisi lem dan divisi sepatu sama-sama merasa
tidak dirugikan karena bagi divisi lem harga transfer tersebut merupakan minimum price dikurangi ongkos angkut
penjualan sedangkan bagi divisi sepatu merupakan maximum
price dikurangi dengan ongkos angkut penjualan. Dengan
demikian maka penilaian kinerja manajer tiap- tiap divisi
yang didasarkan pada kontribusi laba sebelum dipotong pajak
menjadi lebih akurat sehingga goal congruence dapat tercapai.