Abstract :
Salah satu cara untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk adalah
dengan menggalakkan penggunaan kontrasepsi. Perkembangan teknologi alat
kontrasepsi dari tahun ke tahun telah mengalami kemajuan yang pesat. Selain dari
obat kontrasepsi yang diberikan per oral, pada masa ini tersedia pula obat kontrasepsi
secara "susuk" (implantasi) yang mengandung norgestrel. Telah dilakukan penelitian tentang pola pemakaian alat kontrasepsi implant pada ibu-ibu rumah tangga di kecamatan Jetis Kabupaten Mojokerto yang ditinjau dari tingkat usia,tingkat pendidikan dan tingkat status sosial ekonomi. Mengenai tingkat usia, yang paling banyak adalah usia 30-34 tahun (23,33%) dan usia 35-39
tahun (22,67%). Dengan latar belakang pendidikan yang terbanyak adalah tamat SD
(14,00%). Dan bila ditinjau dari tingkat status sosial ekonomi yang terbanyak adalah
dari golongan II (dengan penghasilan antara >Rp 300.000,00- Rp 700.000,00) per
bulan. Pengambilan data dilakukan dengan menyebarkan angket disertai wawancara
secara langsung terhadap 150 responden. Sumber informasi tentang alat kontrasepsi implant yang pertama kali diperoleh responden yang terbanyak adalah dari dokter/bidan (53,33%). Jenis
kontrasepsi implant yang paling banyak digunakan oleh responden adalah norplant
(68,67%). Sebanyak 28,00% responden menyatakan sudah lebih dari sekali memakai
implant. Bagi responden yang menggunakan kontraspsi implant lebih dari sekali,
sudah cukup tepat waktu dalam mengganti implant sesuai jadwal pencabutan
kontrasepsi implant (90,48%). Responden yang melakukan konseling terlebih dulu
dengan dokter/bidan sebelum dilakukan pemasangan implant/susuk (89,33%).
Terdapat 0,67% responden yang pernah mengalami kehamilan selama menggunakan
kontrasepsi implant/susuk. Faktor yang menjadi pertimbangan responden dalam
menggunakan susuk, yang terbanyak adalah praktis dan efektif (48,00%). Periode
waktu dalam melakukan pemasangan implant/susuk yang terbanyak adalah kurang
lebih 40 hari setelah bersalin (40,00%) dan 7 hari dari haid pertama (36,67%).
Tempat pemasangan implant/susuk yang paling banyak dituju oleh responden adalah
Puskesmas/poliklinik (92,67%). Responden yang masih melakukan konseling dengan
dokter/bidan setelah pemasangan implant (82,67%) Efek samping dari kontrasepsi
implant yang paling banyak dialami responden adalah gangguan siklus haid
(54,43%). Tindakan yang pertama kali dilakukan responden dalam mengatasi efek samping dari pemakaian susuk yang terbanyak adalah dengan bertanya dan memeriksakan diri ke dokter/bidan (68,12%). Berdasarkan perincian dari faktor usia, tingkat pendidikan dan tingkat status sosial ekonomi dapat disimpulkan bahwa ada respon yang berbeda dari faktor
usia, tingkat pendidikan dan tingkat status sosial ekonomi mengenai pola pemakaian
alat kontrasepsi implant/susuk.