Abstract :
Pertumbuhan ekonomi ORBA di Indonesia lebih membuka peluang
tumbuhnya sektor ekonomi makro dan menghasilkan konglomerat-konglomerat yang sebagian besar dari etnis tionghoa. Hampir semua sektor perdagangan terutama perbankan sekarang dikuasai oleh etnis tionghoa, ataupun kolusi antara etnis tionghoa dan pribumi . Kedudukan ekonomi orang tionghoa yang merupakan warisan sejarah kolonial membawa orang
tionghoa menjadi golongan ekonomi menengah ke atas ( middle class ) di Indonesia. Kemakmuran etnis tionghoa dapat dilihat dari perbaikan standar hidup di semua tingkat, walaupun ada juga yang tidak terjangkau khususnya
di daerah pedalaman. Namun jika ditelusuri lebih jauh , kemakmuran yang dicapai etnis tionghoa di Indonesia tidak semata-mata karena warisan kolonial ataupun pengaruh pertumbuhan ekonomi pada ORBA saja, tetapi perlu dikaitkan
dengan sifat-sifat tradisi budaya etnis tionghoa. Etnis tionghoa telah lama berinteraksi dengan pasar potensial dan telah menerapkan teknologi manajerial modern, namun pada kenyataannya bentuk pengendalian secara tradisional masih ada. Nilai-nilai budaya tionghoa seperti patemalisme,
personalisme, hierarki serta guanxi mempengaruhi etnis tionghoa dalam segala aspek kehidupannya, seperti selalu bersikap hemat, loyal, jujur, bekerja keras, mengutamakan pendidikan, persatuan dan saling membantu, bahkan ditekankan kembali konfusianisme sebagai etos pengikat
orang - orang tionghoa.
Pada bisnis keluarga UD " X yang dipengaruhi oleh budaya
tionghoa, nilai budaya berperan penting dan mempunyai pengaruh besar 4 terhadap keseluruhan operasional badan usaha. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika yang menjadi kontrol badan usaha pada UD " X " adalah budaya tionghoa itu sendiri. Budaya tionghoa yang mempengaruhi
bisnis keluarga UD " X " inilah yang kemudian diterjemahkan sebagai internal control badan usaha.
Berdasarkan analisis yang dilakukan peneliti pada UD " X ", jika dilihat dari segi internal control, budaya tionghoa bisa berpengaruh baik maupun buruk terhadap internal control badan usaha. Akan tetapi, tidak semua teori internal control pada literatur barat yang tidak diterapkan pada badan usaha keluarga tionghoa mempunyai pengaruh buruk pada internal control badan usaha tersebut, malah dalam beberapa hal internal control yang dipengaruhi budaya tionghoa lebih baik daripada internal control pada
perusahaan barat. Akan tetapi, akan lebih baik lagi bagi pemilik UD " X " selain tetap mempertahankan nilai- nilai budaya tionghoa yang dianut, juga perlu memperhatikan teori internal control secara teoritis. Dengan demikian akan menciptakan internal control yang lebih efektif dalam menjaga harta kekayaan badan usaha tanpa menghilangkan budaya yang telah mengakar pada diri orang tionghoa.