Abstract :
Sediaan merupakan salah satu komponen aktiva lancar yang
jumlahnya sangat material dan berpengaruh besar pada laporan keuangan.
Pengendalian dan pengawasan terhadap sediaan perlu dilakukan karena
pada umumnya sediaan merupakan harta yang sensitif terhadap kerusakan,
pencurian, perubahan harga, serta merupakan objek manipulasi yang rawan
dalam suatu badan usaha. Kesalahan dalam perhitungan sediaan tidak hanya
akan berdampak pada laporan keuangan periode itu saja, tapi juga akan
berpengaruh pada laporan keuangan periode berikutnya. Hal ini disebabkan
sediaan merupakan akun permanen yang saldo akhirnya akan menjadi saldo
awal pada periode berikutnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan audit
terhadap sediaan untuk mengetahui kewajaran penyajiannya dalam laporan
keuangan.
PT "S" merupakan badan usaha manufaktur yang bergerak di bidang
industri pengolahan kayu (woodworking industry). Kegiatan produksi pada
PT "S" dilakukan berdasarkan pesanan (job order). Sediaan bahan baku PT
"S" yang berupa kayu bulat (log) memiliki sifat yang mudah rusak dan peka
terhadap pengaruh lingkungan. Sifat tersebut menyebabkan PT "S"
seringkali menghadapi masalah terkait dengan sediaan bahan bakunya,
yaitu terjadinya selisih nilai sediaan bahan baku antara catatan akuntansi
dan jumlah fisik yang ada di gudang. Selisih tersebut dapat mempengaruhi
kewajaran penyajian nilai sediaan pada laporan keuangan PT "S". Untuk
mengetahui material atau tidaknya selisih yang terjadi dan bagaimana
pengaruh selisih tersebut terhadap kewajaran laporan keuangan,
dilakukanlah substantive tests.
Sebelum melakukan pengujian substantif atas sediaan bahan baku
PT "S", auditor perlu memperoleh pemahaman yang memadai atas struktur
pengendalian internal PT "S". Pemahaman dan penilaian atas struktur
pengendalian internal sangat terkait dengan sifat, saat, dan luas prosedur
audit yang akan dilakukan. Secara umum struktur pengendalian internal
pada PT "S" sudah cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari adanya struktur
organisasi yang memisahkan fungsi-fungsi yang ada dalam badan usaha.
Kemudian, PT "S juga memiliki sistem dan prosedur yang cukup baik
dalam menangani sediaan bahan bakunya. Transaksi yang terkait dengan
bahan baku juga telah memiliki dokumen pendukung dan dicatat oleh
bagian akuntansi dengan benar. Walaupun demikian, pengendalian internal
PT "S" masih memiliki beberapa kelemahan yang memungkinkan
timbulnya kesalahan maupun kecurangan yang dilakukan oleh pihak
internal badan usaha. Kelemahan pengendalian internal yang ada dalam PT
"S" antara lain adanya perangkapan fungsi, dimana penerimaan dan penyimpanan bahan baku dirangkap oleh bagian gudang. Selain itu, PT "S"
tidak memiliki dokumen permintaan pembelian bahan baku. Selama ini
permintaan pembelian bahan baku dilakukan secara lisan. Kelemahan yang
lain yaitu stock opname atas sediaan bahan baku tidak dilakukan secara
periodik dan pelaksanaannya tidak didasarkan pada instruksi tertulis.
Kelemahan-kelemahan pada struktur pengendalian internal PT "S"
perlu diperiksa untuk mengetahui bagaimana dampaknya pada nilai sediaan
yang disajikan di laporan keuangan. Pemeriksaan tersebut dilakukan dengan
cara menerapkan substantive tests. Berdasarkan substantive tests yang
dilakukan, ditemukan selisih antara catatan akuntansi dan jumlah fisik yang
sebenarnya. Selisih yang timbul yaitu sebesar Rp2.324.440 atau 0,93%,
dimana nilai sediaan menurut catatan akuntansi lebih besar jika
dibandingkan jumlah fisiknya. Selisih tersebut bisa dikatakan tidak material
bila dibandingkan dengan nilai sediaan bahan baku secara keseluruhan,
sehingga saldo bahan baku yang tercantum di neraca dapat dikatakan wajar.
Apalagi penyebab selisih tersebut bukan suatu kesengajaan, melainkan
kerusakan pada bahan baku yang merupakan sesuatu umum terjadi.
Walaupun tidak material, selisih tersebut mengakibatkan nilai sediaan dan
beban pokok penjualan menjadi tidak tepat. Oleh karena itu, untuk lebih
mendukung kewajaran laporan keuangan, perlu dilakukan penyesuaian atas
selisih tersebut. Kemudian, PT "S" juga perlu memperbaiki struktur
pengendalian internalnya yang bersangkutan dengan sediaan agar
kinerjanya di kemudian hari menjadi lebih baik.